BI Pantau Dampak Perang Iran, Janji Jaga Rupiah Sesuai Fundamental

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Penulis: Agustiyanti
2/3/2026, 10.59 WIB

Bank Indonesia memastikan akan menjaga nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamentalnya di tengah meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global usai serangan Amerika Serikat ke Iran. Nilai tukar rupiah pagi ini melemah ke level 16.800 per dolar AS. 

"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Erwin Gunawan Hutapea dalam siaran pers, Senin (2/3). 

Ia menjelaskan,  eskalasi konflik di Timur Tengah usai serangan AS ke Iran mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global. Ia pun memastikan BI akan selalui hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," ujar Erwin. 

Nilai tukar rupiah melemah 0,27% ke level 16.823 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Senin (2/3). Rupiah melemah seiring mayoritas mata uang Asia seiring menguatnya dolar AS karena aksi investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik. 

Indeks mata uang negara berkembang turun 0,5%, menurun untuk sesi kedua berturut-turut karena dolar menguat. Peso Filipina dan dolar Taiwan mengalami penurunan terbesar di antara mata uang lainnya. Pasar Korea Selatan tutup karena libur. Sementara itu, saham pasar negara berkembang turun hingga 1%, penurunan terbesar dalam lebih dari dua minggu.

Ketegangan yang meningkat di Iran, yang telah menyebar ke wilayah yang lebih luas, telah mengganggu berbagai sektor mulai dari minyak dan perkapalan hingga perjalanan udara. Harga minyak mentah Brent acuan melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun sebelum turun, sementara dolar AS dan emas melonjak karena investor berbondong-bondong ke aset safe haven, yang semakin merugikan mata uang pasar negara berkembang dan memicu kekhawatiran inflasi.

“Ini adalah guncangan yang membuat pasar negara berkembang melemah,” kata Brendan McKenna, seorang ahli strategi pasar negara berkembang di Wells Fargo di New York.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman