Uang Primer Mei 2026 Tumbuh 14,2%, Ditopang Giro Bank Umum di Bank Indonesia

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Bank Indonesia (BI) melaporkan uang primer atau monetary base (M0) adjusted pada Mei 2026 tumbuh 14,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 2.214,6 triliun.
8/6/2026, 13.32 WIB

Bank Indonesia (BI) melaporkan uang primer atau monetary base (M0) adjusted pada Mei 2026 tumbuh 14,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 2.214,6 triliun. Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 14,3% (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan uang primer dipengaruhi oleh peningkatan giro bank umum di Bank Indonesia, serta pertumbuhan uang kartal yang beredar di masyarakat.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4% (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8% (yoy),” kata Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (8/6).

Berdasarkan data BI, posisi uang primer adjusted pada Mei 2026 mencapai Rp 1.939,2 triliun, naik dibandingkan April 2026 sebesar Rp 1.952,3 triliun. Sementara itu, uang primer secara nominal tercatat Rp 1.563,8 triliun pada Mei 2026.

Di sisi lain, uang kartal yang diedarkan mencapai Rp 1.143 triliun pada Mei 2026, meningkat dibandingkan posisi Mei tahun sebelumnya. Adapun giro bank umum di BI tercatat sebesar Rp 338,3 triliun.

BI menjelaskan pertumbuhan uang tunai dilakukan guna memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter yang disesuaikan. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan likuiditas di perekonomian.

Mulai Januari 2025, BI juga melakukan penyesuaian perhitungan uang primer guna memberikan pemahaman yang lebih baik terkait perkembangan uang primer dan pengaruh kebijakan likuiditas bank sentral.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah