Ekspor Makin Loyo, Neraca Dagang September Defisit US$ 160 Juta

Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi. BPS mencatat ekspor pada September 2019 mencapaiUS$ 14,1 miliar turun 1,21% dibanding bulan sebelumnya.
15/10/2019, 11.50 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada September 2019 defisit sebesar US$  160 juta, memburuk dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan surplus US$ 85 juta. Defisit tersebut terutama disebabkan kinerja ekspor yang turun, sementara impor mulai meningkat. 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan ekspor pada September tercatat sebesar US$ 14,1 miliar turun 1,21% dibanding bulan sebelumnya atau 5,74% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, impor pada September tercatat masih meningkat 0,63% dibandingkan bulan sebelumnya atau turun 2,41% dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Neraca perdagangan pada September 2019 defisit US$ 160 juta. Secara kumulatif, Januari-September 2019, neraca perdagangan defisit US$ 1,95 miliar,"

 (Baca: Ekonom Proyeksi Neraca Perdagangan Surplus Meski Ekspor-Impor Turun)

 Menurut Suhariyanto, ekspor secara kumulatif Januari-September tercatat sebesar US$ 124,17 miliar, turun 8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara impor secara kumulatif tercatat sebesarUS$ 126.115,8 juta, turun 9,12% dibanding periode sama tahun sbeelumnya

Ia menjelaskan penurunan ekspor hampir dialami oleh seluruh sektor.  Ekspor migas sepanjang tahun ini turun 25,27%, pengolahan turun 3,39%, pertambangan dan lainnya turun 17,41%. Hanya sektor pertanian yang berhasil naik sebesar 2,58%.

"Ini semua karena negara tujuan ekspor kita melambat," terang dia. 

 (Baca: Ekspor dan Impor Anjlok, Surplus Dagang Tiongkok Naik pada September)

Sementara itu, impor pada September mulai meningkat terutama pada kelompok barang konsumsi dan barang modal masing-masing 3,13% dan 4,18%. Adapun impor bahan baku masih turun 0,07% dibanding bulan sebelumnya. 

"Impor (nonmigas) kita secara kumulatif paling besar masih dari Tiongkok, yakni handphone dan notebook. Lalu disusul Jepang , yakni alat transmisi dan mesin," jelas dia. 

Neraca perdagangan mulai mengalami defisit sejak tahun lalu. Sepanjang tahun lalu, defisit neraca perdagangan bahkan mencapai US$ 8,57 miliar, terburuk sepanjang sejarah seperti yang terekam dalam grafis di bawah ini

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.