BI Waspadai Risiko dari Pemulihan Ekonomi Dunia yang Bersifat Temporer

ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) bersama Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (ketiga kiri)), saat menghadiri pertemuan tahunan Bank Indonesia 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (28/11).
Penulis: Desy Setyowati
Editor: Yuliawati
29/11/2017, 12.35 WIB

Tantangan global lainnya yakni berlanjutnya pengetatan moneter yang bisa mempengaruhi arah pergerakan likuiditas dunia. Di samping itu kondisi geopolitik di semenanjung Korea yang diperkirakan bisa mengubah arus modal di negara-negara emerging, termasuk Indonesia.

(Baca juga: Ekonomi Kuartal III Lima Negara ASEAN Melaju, Indonesia Tertinggal)

BI juga melihat risiko gejala proteksionisme, akumulasi kerentanan sistem keuangan global yang terindikasi dari price earning ratio (PER) yang sudah terlalu tinggi. Juga dari leverage perusahaan yang diikuti dengan kenaikan rasio utang terhadap ekspor (debt to services ratio/DSR) di beberapa negara.

Tantangan ekonomi ke depan ini, kata Agus penting untuk diketahui, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Kuartal III 2017 tercatat 5,06% telah mengalami pemulihan, dan Indonesia juga mendapat pengakuan dari dunia atas perbaikan yang dilakukan. Beberapa pengakuan, seperti peningkatan peringkat surat utang menjadi layak investasi dari Standard and Poor's (S&P). 

SElain itu, Indonesia juga mengalami kenaikan indeks daya saing global (Global Competitiveness Index) oleh World Economic Forum ke posisi 36, dan kenaikan peringkat kemudahan dalam berusaha (Ease of Doing Business) oleh World Bank ke posisi 72.

"Namun ada beberapa hal tantangan ke depan yang musti kami catat untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Agus.  (Baca: Empat Langkah BI Dorong Kredit 2018 Tumbuh 10-12%)

Halaman: