Sempat Lesu, Swasta Masih Tunggu Sinyal Perbaikan Ekonomi

Arief Kamaludin|KATADATA
Penulis: Desy Setyowati
5/8/2016, 19.48 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua kemarin sebesar 5,18 persen. Di sana juga terlihat tingkat konsumsi pemerintah tumbuh 36,16 persen dibanding kuartal sebelumnya (qtq). Namun Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya bertambah 2,55 persen.

Kondisi ini, kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani, menunjukan bahwa spending pemerintah belum berdampak signifikan terhadap minat investasi swasta. “Kami monitor (ke sektor riil), laporannya terjadi kelesuan atau penurunan permintaan,” kata dia kepada Katadata, Jumat, 5 Agustus 2016.

Sebagai informasi, PMTB merupakan pengeluaran untuk barang modal sebagai investasi, seperti untuk bangunan, jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan. Pemerintah dan sejumlah ekonom sempat meyakini bahwa belanja besar untuk infrastruktur akan berdampak pada optimisme swasta untuk berinvestasi. (Baca: Darmin Yakin Pertumbuhan Ekonomi 2016 Capai 5,2 Persen).

Data BPS lalu menunjukan bahwa realisasi penanaman modal oleh asing dan dalam negeri pada kuartal kedua mencapai Rp 151,6 triliun, atau meningkat 3,5 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Adapun bila dilihat secara tahunan (yoy) naik 12,3 persen dari periode yang sama 2015. “Kalau data BPS itu benar, kami sambut positif,” tutur Haryadi.

Dalam catatan BPS, konsumsi pemerintah dibanding tahun lalu naik 6,28 persen. Pertumbuhan yoy ini meningkat dibanding kuartal satu yang hanya 2,93 persen. Bahkan, jika diukur per kuartal (qtq) tumbuh 36,16 persen. Sementara itu, PMTB yoy tumbuh 5,06 persen, namun menurun dibanding kuartal pertama yang mencapai 5,6 persen.

Konsumsi Rumah TanggaLNPRTKonsumsi PemerintahPMTBEksporImporPDB
Kuartal I4,94 persen6,38 persen2,93 persen5,6 persen-3,9 persen- 4,2 persen4,92 persen
Realisasi Kuartal II5,04 persen6,72 persen6,28 persen5,06 persen-2,73 persen-3,01 persen5,18 persen

Lalu, apakah  ini berarti spending pemerintah belum mendorong swasta berinvestasi karena faktor perspsi? Menurut Deputi Kepala BPS Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Kecuk Suharyanto, belanja pemerintah semestinya mendorong investasi, terutama optimisme pengusaha. Tetapi beberapa faktor eksternal, seperti keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Britain’s Exit (Brexit), menurunkan optimisme pengusaha. 

“Kami tidak bisa telusuri. Kalau Indeks Tendensi Bisnis (ITB) kan opini pelaku bisnis. Tapi masih tinggi kalau di ats 100, sedikit turun memang optimisnya,” kata Suharyanto. (Baca: Belanja Pemerintah dan Konsumsi, Penopang Ekonomi Kuartal II).

ITB kuartal tiga memang menurun menjadi 109,06 dari posisi 110,24 pada kuartal dua. Penurunan itu dipicu oleh berkurangnya optimisme pelaku bisnis, meskipun indeks kondisi bisnisnya membaik.

Menurut Ekonom Bank Permata Juniman, rendahnya investasi swasta pada tiga bulan lalu lantaran pelaku usaha belum yakin ada perbaikan ekonomi. Apalagi, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama hanya 4,92 persen -kemudian BPS merevisi menjadi 4,91 persen- di bawah pertumbuhan triwulan empat 2015.

Karena itu, investor masih menunggu sinyal perbaikan ekonomi untuk berinvestasi. Selain itu, selusin paket kebijakan ekonomi yang digeber pemerintah belum berdampak terhadap investasi. “Jadi, pertumbuhan ekonomi di kuartal dua yang 5,18 persen ini bisa men-triger investor masuk,” kata Juniman. (Baca: Belanja Dipotong, Pemerintah Yakin Pertumbuhan Ekonomi Bisa Naik).

Akan tetapi dia memperingatkan dampak dari rencana pemotongan anggaran sebesar Rp 133,8 triliun. Pemerintah harus memastikan bahwa belanja yang dipotong merupakan biaya konsumtif, bukan produktif. Sebab, swasta masih menunggu spending pemerintah sebagai lokomotif investasi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.