KATADATA - Gejolak ekonomi global memicu sejumlah negara mengalami perlambatan. Bahkan, beberapa negara tumbuh minus. Namun, Presiden Joko Widodo menyatakan optimistis atas masa depan negeri ini.
Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,7 sampai 4,9 persen masih lebih baik dibanding negara berkembang (emerging market) yang lain. “Itu angka yang menurut saya masih sangat baik dibandingkan negara lain. Ada yang sudah minus,” kata Jokowi saat menutup acara Kompas 100 CEO Forum di JCC, Jakarta, Kamis, 26 November 2015.
Dia mengakui perlambatan ekonomi saat ini tidak bisa dihentikan. Dalam setiap pertemua internasional, mayoritas negara mengungkapkan masalah yang sama. (Baca: BI Peringatkan Pemerintah Akan Perlambatan Cina dan Bunga Amerika).
Di tengah situasi tersebut, kata Jokowi, ada beberapa tantangan yang menjadi peluang bagi Indonesia untuk tumbuh positif. Misalnya, mengembangkan infrastruktur yang masih minim. Selain itu, Indonesia membuat sejumlah kesepakatan perdagangan internasional, seperti dengan bergabung dalam kemitraan dagang di kawasan pasifik alias Trans Pasific Partnership dan kesepakatan perdagangan bebas (FTA) dengan Uni Eropa.
Jokowi menegaskan Indonesia harus siap mengikuti kesepakatan dagang internasional tersebut. Sebab, hal ini bisa menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor. Walau demikian, dia mengakui daya saing Indonesia masih kalah dibandingkan negara lain, seperti Malaysia dan Singapura. Karena itulah, semestinya masalah itu memacu industri dalam negeri meningkatkan produktifitas.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil mengatakan infrastruktur yang minim menjadi peluang Indonesia untuk tumbuh. Di saat negara lain berpikir keras mencari sumber pertumbuhan lain, Indonesia dapat memanfaatkan investasi pemerintah di sektor ini. (Baca juga: BI Ramalkan Empat Faktor Membayangi Ekonomi 2016).
Hal senada disampaikan Muliaman D. Hadad. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan ini berpendapat ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain. Hal itu terlihat dari konsumsi rumah tangga dan investasi pemerintah yang masih tumbuh. “Ini terefleksi pada 2015 yang bisa dilalui dengan selamat,” tutur dia.
Indikator lainnya, inflasi berada di level 2,16 persen sepanjang tahun (year to date), jauh lebih rendah dari periode yang sama pada tahun lalu yang berada di kisaran delapan persen. Neraca perdagangan yang tercatat surplus, juga menjadi indikator membaiknya pertumbuhan ekonomi. (Baca pula: Bangun Infrastruktur, Pemerintah Didorong Gandeng Swasta).
Tak berhenti di situ, Muliaman juga menyuguhkan data sektor keuangan. Misalnya, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan 20,62 persen per September 2015. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan batas minimum internasional delapan persen. Artinya, kapasitas perbankan nasional untuk meminjamkan masih besar. Begitu juga dengan penyaluran kredit tumbuh 11,1 persen serta rasio utang terhadap pinjaman (LDR) menurun 88,54 persen.
Meski demikian, Muliaman menyatakan minat industri dalam berekspansi menurun. Tapi dia meramal, “Pertumbuhan ekonomi 2016 diperkirakan meningkat. Kredit dan dana pihak ketiga juga. Ini jadi kesempatan bagi industri keuangan untuk ekspansi.”