Ekonomi Kuartal I Terendah dalam 19 Tahun, Pertanian Nyaris Tak Tumbuh

ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.
Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 menjadi yang terendah sejak 2001, sektor pertanian paling terpukul dengan hanya tumbuh 0,02% yoy.
5/5/2020, 14.01 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 hanya sebesar 2,97%. Kepala BPS Suhariyanto menyebut, angka tersebut merupakan pertumbuhan kuartalan terendah sejak 2001.

"Kalau kita lihat ini terendah sejak kuartal I 2001," kata Suhariyanto dalam konferensi video di Jakarta, Selasa (5/5).

Suhariyanto menjelaskan, sektor usaha yang tumbuh paling rendah pada triwulan I yakni sektor pertanian dan sektor pertambangan. Adapun kedua sektor ini hanya mampu tumbuh masing-masing sebesar 0,02% dan 0,43%.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh 0,02%, jauh dibawah capaian triwulan I 2019 yang tumbuh 1,82%. Suhariyanto menjelaskan rendahnya pertumbuhan sektor ini karena terjadinya kontraksi pada sub sektor tanaman pangan sebesar 10,31%.

"Ini memang karena adanya pergeseran waktu panen padi pada tahun ini ke April dari sebelumnya jatuh pada Maret," ucap dia.

(Baca: Terpukul Efek Corona, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Anjlok jadi 2,97%)

Selain itu, sub sektor tanaman pangan mengalami kontraksi akibat cuaca ekstrim di awal tahun 2020. Tak hanya sub sektor tanaman pangan, terlihat pula pertumbuhan negatif pada sub sektor jasa pertanian dan perburuan sebesar -1,39%.

Selanjutnya, sektor pertambangan dan penggalian juga mengalami pertumbuhan yang cukup rendah yakni 0,43%. Kemudian disusul sektor transportasi dan pergudangan yang hanya tumbuh 1,27%.

Suhariyanto menilai sektor transportasi dan pergudangan menurun cukup dalam dari 7,55% pada triwulan I 2019 menjadi 1,27%. "Adanya pembatasan sosial dan larangan penerbangan akibat penyebaran Covid-19 menjadi penyebab turunnya pertumbuhan sektor ini," ucap dia.

Secara rinci, sub sektor angkutan udara mengalami kontraksi yang paling dalam yakni -13,31% pada triwulan I 2020. Sub sektor angkutan rel dan sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan pos dan kurisi juga terkontraksi masing-masing -6,96% dan -0,73%. Namun, sub sektor angkutan darat, angkutan laut, dan angkutan sungai danau dan penyeberangan masih tumbuh masing-masing 5,15%, 5,93%, dan 1,16%.

(Baca: Sebanyak 12 Juta Orang Indonesia Berpotensi Jatuh Miskin akibat Corona)

Sektor lainnya yang terpukul pada triwulan I 2020 yakni perdagangan. Sektor ini hanya tumbuh 1,6%, turun drastis dari periode yang sama tahun sebelumnya 5,21%. "Penyebabnya penurunan penjualan mobil dan sepeda motor di awal tahun 2020," kata Suhariyanto.

Sektor akomodasi dan makan minum turut terpukul di triwulan I 2020. Pasalnya, sektor ini hanya tumbuh 1,95%, turun dari 5,87%.

Terpukulnya sektor akomodasi dan makan minum menurut Suhariyanto terutama terlihat pada penyediaan akomodasi terutama perhotelan. Utamanya, disebabkan karena banyaknya pembatalan berbagai kegiatan seperti pertemuan atau rapat di hotel oleh instansi pemerintah dan bisnis hingga penurunan jumlah wisatawan mancanegara akibat merebaknya Covid-19.

Sektor industri pengolahan pun melambat cukup drastis dari tumbuh 3,85% menjadi 2,06%. Perlambatan sektor ini karena industri makanan dan minuman yang tumbuh melambat yakni hanya 3,94%. "Permintaan luar negeri turun yang tercermin dari terkontraksinya ekspor komoditas makanan dan minuman," ujarnya.

(Baca: Ancaman Krisis Ekonomi Akibat Covid-19)

Meski demikian industri kimia, farmasi dan obat tradisional masih mampu tumbuh 5,59%. Pertumbuhan didukung peningkatan produksi barang kimia dan obat-obatan untuk memenuhi permintaan luar negeri dan melonjaknya permintaan domestik akibat mewabahnya Covid-19.

Selain sektor-sektor tersebut, beberapa sektor lainnya tumbuh cukup tinggi. Sektor konstruksi tumbuh 2,9%, administrasi pemerintahan 3,16%, real estat 3,83%, pengadaan listrik dan gas 3,85%, pengadaan air 4,56%, jasa perusahaan 5,39%, jasa pendidikan 5,89%, jasa lainnya 7,09%, informasi dan komunikasi 9,81%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 10,39%, dan jasa keuangan dan asuransi 10,67%.

(Baca: Ekonomi AS Minus 4,8% akibat Corona, Sri Mulyani Waspadai Dampak ke RI)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Agatha Olivia Victoria