Inflasi RI Hampir Tembus 5%, BPS: Masih Lebih Baik dari Banyak Negara

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.
Ilustrasi. BPS mencatat inflasi tahunan Juli mencapai 4,94%.
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
1/8/2022, 12.22 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Juli menyentuh rekor tertingginya sejak Oktober 2015 di level 4,94% secara tahunan. Meski demikian, BPS menyebut inflasi ini masih relatif terkendali dibandingkan beberapa negara lainnya, terutama di kelompok G20.

"Inflasi Indonesia secara tahunan mengalami peningkatan yang persisten sepanjang 2022. Namun, kondisi ini jika dibandingkan beberapa negara, kita masih lebih baik," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers daring, Senin (1/8).

Inflasi Indonesia secara tahunan naik dua kali lipat dalam tujuh bulan terakhir, dari hanya 2,2% pada awal tahun menjadi 4,94% pada bulan lalu.  Namun, level inflasi tahunan Indonesia tersebut masih di bawah Korea Selatan yang mencapai 6,1% pada bulan Juni, Inggris 8,2%, Amerika Serikat 9,1% dan Uni eropa 9,6%. Hanya saja, inflasi Indonesia jauh di atas Cina sebesar 2,5%

Inflasi yang terkendali juga tercermin dari inflasi komponen inti yang masih berada di level 2,86% pada Juli. Level ini bahkan belum mencapai titik tengah target bank sentral di 3%. Namun, komponen inti juga terpantau terus naik sejak awal tahun.

"Kategorinya masih aman, karena inflasi inti kita angkanya 2,86% yang masih relatif rendah, menunjukan bahwa fundamental ekonomi kita masih bagus," kata Margo.

Tekanan inflasi domestik yang terus menguat disebabkan oleh kenaikan harga energi dan pangan global. Kenaikan harga energi, menurut Margo, antara lain dapat diredam lewat pemberian subsidi oleh pemerintah. Seperti yang sudah disepakati dengan DPR pada Mei lalu, anggaran subsidi dan kompensasi energi tahun ini sudah dipertebal menjadi Rp 502 triliun. Ini bertujuan agar kenaikan harga energi dunia tidak ikut dirasakan konsumen.

Inflasi juga didorong oleh kenaikan harga pangan. Penyebab kenaikan harga pangan karena komoditas yang tergolong volatile food alias harga bergejolak menghadapi gangguan suplai akibat cuaca buruk.

"Perkembangan curah hujan di Indonesia  terutama di beberapa  daerah penghasil produk hortikultura cabai rawit, cabai merah dan bawang merah, seperti di Cianjur, Brebes dan Banjarnegara, curah hujannya berada di kategori tinggi, ini tentu berpengaruh pada produksi," kata Margo.

Kenaikan inflasi pada Juli ini bukan hanya karena harga bergejolak, tetapi juga pada kelompok harga diatur pemerintah seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). Tidak semua jenis BBM disubsidi oleh pemerintah. Penyesuaian harga pada jenis BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex ikut mengerek inflasi bulan lalu. Kenaikan harga LPG dan penyesuaian untuk tarif listrik di atas 3.500 Va juga memberi andil inflasi bulan lalu.

BPS juga melihat, faktor lain pendorong inflasi pada bulan lalu adalah momentum libur sekolah dan hari besar keagamaan. Hal ini, menurut Margo, juga memberi andil terhadap kenaikan inflasi Juli.

 

Reporter: Abdul Azis Said