Rupiah Dibuka Menguat di Tengah Pengetatan Moneter Eropa
Nilai tukar rupiah dibuka menguat tujuh poin ke level Rp 14.823 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Penguatan rupiah ditopang dolar AS yang terpantau melemah terhadap euro imbas pengetatan moneter di benuar biru tersebut.
Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan penguatan ke arah Rp 14.821 pada pukul 09.15 WIB. Ini semakin jauh dari posisi penutupan akhir pekan lalu di Rp 14.830 per dolar AS.
Mata uang Asia lainnya bergerak variatif. Penguatan juga dialami dolar Singapura 0,09%, dolar Taiwan 0,20%, rupee India 0,17% dan yuan Cina 0,45%. Sebaliknya, won Korea Selatan terkoreksi 0,03% bersama yen Jepang dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,10%, peso Filipina 0,11%, dan baht Thailand 0,08%, sedangkan dolar Hong Kong stagnan.
Analis PT Sinarmas Futures, Ariston Tjendra, memperkirakan rupiah masih akan menguat pada awal pekan ini terimbas pengetatan moneter di Eropa. Nilai tukar diperkirakan menguat ke arah Rp 14.800, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.850 per dolar AS.
Dolar AS masih terlihat berkonsolidasi terhadap nilai tukar lainnya dengan kecenderungan melemah terutama terhadap euro. "Kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 75 basis poin pekan lalu menjadi penyebabnya," kata Ariston dalam risetnya, Jumat (12/9).
ECB menaikan suku bunga acuannya secara agresif untuk memerangi inflasi yang terus menanjak. Kenaikan 75 bps akhir pekan lalu merupakan lanjutan dari kenaikan 50 bps pada pertemuan sebelumnya. Suku bunga acuan ECB kini berada di level positif 0,75% setelah bertahun-tahun dipertahankan berada di zona negatif.
Penguatan nilai tukar juga berasal dari kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan bunga acuannya pada pertemuan bulan ini. BI sudah menaikkan bunga acuannya pada pertemuan bulan lalu sebesar 25 bps.
"Ekspektasi kenaikan inflasi karena kenaikan BBM subsidi juga memicu ekspektasi Bank Indonesia akan menaikan suku bunga acuannya lagi, sehingga ini membantu menjaga nilai tukar rupiah," kata Ariston.
Bank Indonesia dan pemerintah kompak memperkirakan inflasi pada akhir tahun ini akan jauh di atas target bank sentral 2%-4%. Kementerian Keuangan memperkirakan inflasi mendekati 7% pada akhir tahun sebagai imbas kenaikan harga BBM.
Di sisi lain, sentimen the Fed masih menjaga pelemahan dolar AS tidak dalam. Pasar masih berekspektasi besar bahwa the Fed akan menaikan suku bunga acuannya 75 bps pada pertemuan pembuat kebijakan pekan depan. Ini dengan pertimbangan bahwa inflasi AS masih di level tinggi.
"Besok malam AS akan merilis data inflasi konsumennya. Namun dolar AS bisa melemah lagi bila terlihat penurunan inflasi," kata Ariston.
Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot siang hari ini hingga pukul 13.12 WIB diperdagangkan 14.830 per dolar AS data per Sabtu, 10 September 2022. Nilai tukar ini melemah 0,01% dibanding penutupan hari sebelumnya yang diperdagangkan 14.828 per dolar AS. Diperkirakan untuk pergerakan nilai tukar harian, rupiah akan berada pada kisaran 14817,5 - 14897,5.