Rupiah Loyo Kembali Dekati 15.600/US$ Jelang Pertemuan The Fed
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 15 poin ke level Rp 15.569 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini. Rupian melemah di tengah penantian pasar terhadap hasil pertemuan The Fed pekan ini dan data inflasi Indonesia besok.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah ke Rp 15.575 pada pukul 09.20 WIB, semakin jauh dari posisi penutupan akhir pekan lalu di Rp 15.554 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah terhadap dolar AS pagi ini. Yen Jepang amblas 0,31%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,14%, dolar Taiwan 0,20%, won Korea Selatan 0,11%, yuan Cina 0,21%, ringgit Malaysia 0,07% dan baht Thailand 0,23%. Sebaliknya, rupee India menguat tipis 0,03% bersama peso Filipina 0,01%.
Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan, rupiah akan tertekan hari ini jelang pertemuan The Fed pekan ini yang diperkirakan kembali mengerek suku bunga. Rupiah diperkirakan melemah ke arah Rp 15.600, dengan potensi penguatan di kisaran Rp 15.520 per dolar AS.
Pembuat kebijakan The Fed akan bertemu pada 1-2 November waktu Amerika Serikat. Mayoritas pasar memperkirakan suku bunga kembali naik 75 bps, melanjutkan kenaikan dengan besaran yang sama di tiga pertemuan sebelumnya.
"Pelaku pasar juga menantikan indikasi kelanjutan kebijakan pengetatan moneter agresif the Fed melalui pernyataan yang dirilis," kata Ariston dalam risetnya, Senin (31/10).
Dari dalam negeri, pasar mengantisipasi data inflasi September yang dirilis besok. Ariston menyebut, pasar berekspektasi inflasi akan menanjak ke 6%. Inflasi yang terus naik bisa menggerus pertumbuhan ekonomi. "Ini bisa memberikan tekanan ke nilai tukar rupiah," ujarnya.
Ia mengatakan, risk on di bursa saham yang masih berlanjut dapat membantu menahan pelemahan rupiah. Indeks saham Asia seperti Nikkei 225 Jepang, Kospi Korea Selatan dan Nifty 50 India menguat, menyusul penguatan di bursa Wall Street pada akhir pekan lalu.
Analis DCFX Lukman Leong melihat rupiah akan bergerak mix di rentang Rp 15.500-Rp 15.600 per dolar AS. Senada Ariston, sentimen positif di bursa saham akan merembet ke perdagangan rupiah.
Namun, dolar AS masih menguat sehingga tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Hal ini didorong oleh peningkatan imbal hasil alias yield obligasi AS setelah data inflasi PCE AS yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi. Inflasi PCE ini menjadi salah satu data yang dipantau The Fed sebelum mengerek suku bunganya.
"Investor juga cenderung wait and see menantikan data inflasi Indonesia besok," kata Lukman.