Rupiah Masih Melemah Pagi Ini Meski Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan

Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Rupiah berbalik menguat tipis dari posisi pembukaan ke arah 15.148 pada pukul 09.20 WIB, tetapi masih melemah 0,03% dari posisi penutupan akhir pekan lalu.
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
10/7/2023, 09.59 WIB

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tujuh poin ke level 15.150 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini. Pelaku pasar merespons data tenaga kerja AS akhir pekan lalu yang menunjukkan kenaikan lebih kecil daripada yang diharapkan di tengah penantian pertemuan bank sentral AS, The Federal Reserve akhir bulan ini.

Mengutip Bloomberg, rupiah semakin melemah ke posisi 15.172 pada pukul 09.55 WIB atau terkoreksi 0,18% daripada posisi penutupan akhir pekan lalu.

Pergerakan mata uang Asia lainnya bervariasi. Pelemahan juga dialami rupee India 0,28%, dolar Taiwan 0,14%, yuan Cina 0,01%, yen Jepang 0,31%, dolar Singapura 0,05% dan dolar Hong Kong 0,04%. Sebaliknya, won Korsel menguat 0,21%, peso Filipina 0,14%, baht Thailand 0,07% dan ringgit Malaysia 0,05%.

Rupiah berpeluang menguat terbatas hari ini setelah data tenaga kerja nonpertanian AS naik tidak setinggi perkiraan. Analis pasar uang Lukman Leong memperkirakan kurs garuda bergerak di rentang 15.100-15.200 per dolar AS.

Jumlah tenaga kerja nonpertanian AS atau NFP bertambah 209 ribu pada bulan lalu, tidak setinggi konsensus pasar di 240 ribu. Namun, rata-rata upah baik per jam maupun per pekan masih meningkat.

"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas oleh koreksi pada dolar AS setelah data NFP menunjukkan penambahan pekerjaan yang lebih rendah," kata Lukman dalam catatannya pagi ini, Senin (10/7). 

Dari internal, pelaku pasar akan menunggu rilis data indeks keprcayaan konsumen (IKK) bulan Juni siang ini yang diperkirakan masih stabil.

Berbeda pendapat, analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan melemah hari ini ke arah Rp 15.150 per dolar AS, dengan potensi support di kisaran 15.100 per dolar AS. Pertemuan bank sentral AS, The Fed akhir bulan ini masih menjadi sentimen utama penggerak rupiah.

Berdasarkan alat pemantauan CME Group, mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Hal itu sesuai sinyal dari The Fed terhadap kemungkinan kenaikan dua kali lagi sisa pertemuan tahun ini. 

"Data ekonomi yang dirilis belakangan ini hasilnya beragam, ada yang mendukung peluang kenaikan suku bunga acuan dan ada yang menurunkan kemungkinan tersebut," kata Ariston pagi ini.

Adapun data terbaru tenaga kerja NFP yang naik tidak setinggi perkiraan juga menjadi perhatian pasar. Meski demikian, data pengangguran dan upah rata-rata yang naik lebih tinggi dari perkiraan juga menjadi faktor perhatian.

Oleh karena itu, ia menyebut dinamika pergerakan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya di pasar masih tinggi yang digerakkan oleh sentimen The Fed. Pasalnya sentimen pasar dengan cepat berubah seirinh perkembangan data dan ekonomi AS terbaru.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Abdul Azis Said