ASEAN +3 akan Permudah Penarikan Bantalan Krisis Chiang Mai Inisiatif
Negara-negara ASEAN beserta Jepang, Korea Selatan, dan Cina atau ASEAN+3 akan memperbarui pedoman pengaturan pertukaran mata uang regional yang dikenal dengan prakarsa Chiang Mai atau Chiang Mai Initiative. Pembaruan pedoman akan mencakup penyederhanaan proses untuk penarikan komitmen ini jika dibutuhkan oleh salah satu negara anggota.
Prakarsa Chiang Mai atau Chiang Mai Initiative adalah pengaturan pertukaran mata uang regional pertama yang diluncurkan oleh negara-negara ASEAN+3. Komitmen ini disepakati pada Mei 2000 saat pertemuan tahunan Bank Pembangunan Asia.
Adapun tujuan pembentukan komitmen ini adalah sebagai bantalan krisis untuk mengatasi kesulitan likuiditas jangka pendek di kawasan dan untuk melengkapi langkah untuk mengatasi kesulitan likuiditas internasional yang ada. Chiang Mai Initiative terdiri dari ASEAN Swap Arrangement (ASA) antar negara ASEAN, dan jaringan bilateral swap arrangement (BSA) antar negara ASEAN+3.
Pada awal kesepakatan, komitmen yang dikumpulkan Chiang Mai Initiative terdiri dari US$ 120 miliar. Dana ini dapat dialokasikan bank-bank sentral negara ASEAN+3 dari cadangan devisanya. Adapun kumpulan komitmen dana ini telah dinaikkan pada 2014 menjadi US$ 24o miliar.
"Mekanismenya penarikan Chiang Mai Initiative lebih tidak sederhana dibandingkan dana yang disediakan IMF. Ini perlu dipermudah" kata Airlangga usai KTT Asia Timur ke-18, Kamis (7/9).
Fasilitas CMIM mencakup dua instrumen, yakni untuk pencegahan krisis (Precautionary Line) dan penyelesaian krisis (Stability Facility) dengan opsi keterkaitan dengan fasilitas IMF.
CMIM Precautionary Line adalah fasilitas untuk mengatasi potensi kesulitan neraca pembayaran dan/atau kesulitan likuiditas jangka pendek. Setiap anggota ASEAN+3 dapat meminta untuk menetapkan jalur pertukaran mata uang lokalnya dengan dolar AS atau mata uang lokal negara ASEAN+3 lainnya.
Sementara Stability Facility)ditujukan untuk kesulitan neraca pembayaran aktual dan/atau kesulitan likuiditas jangka pendek. Setiap anggota ASEAN+3 berhak meminta aktivasi transaksi swap mata uang lokalnya dengan dolar AS atau mata uang lokal negara ASEAN+3 lainnya. Adapun instrumen ini memiliki opsi keterkaitan dengan IMF.
"CMI ini bagus untuk ASEAN. Mekanisme nantinya ada yang mau dipisahkan dari IMF, intinya dipermudah," ujar dia.
Airlangga menyampaikan proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang. Menurutnya, penyederhanaan proses penarikan Chiang Mai Initiative inni tengah dikerjakan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan bersama negara-negara ASEAN+3.
"Masih agak panjang proses penyederhanaanya, karena ini akan melibatkan Asia Development Bank dan lain-lain," ujar Airlangga.