The Fed Diramal Tahan Suku Bunga, Rupiah Bisa Tertekan di Rp 16.700 per Dolar AS
Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan tersebut terjadi karena menurunnya prospek pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS yang melanjutkan penguatan oleh menurunnya prospek pemangkasan suku bunga The Fed menyusul pernyataan hawkish Gubernur The Fed Jerome Powell,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Kamis (31/10).
Hawkish adalah istilah untuk menggambarkan sikap bank sentral yang cenderung menaikkan suku bunga guna menekan inflasi. Ketika pejabat The Fed bersikap hawkish, pasar biasanya menafsirkan bahwa kebijakan moneter akan lebih ketat, sehingga dolar AS menguat dan rupiah berpotensi melemah.
Selain faktor eksternal, rupiah juga masih tertekan oleh kebijakan dalam negeri. Lukman menilai prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI) serta kebijakan fiskal yang longgar turut membebani pergerakan mata uang garuda.
“Rupiah akan berada di level Rp 16.600 hingga Rp 16.700 per dolar AS,” katanya.
Meski diproyeksikan melemah, rupiah justru dibuka menguat pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 16.615 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,12% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan Rupiah Akan Berlanjut
Sementara itu, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut. “Rupiah kemungkinan melemah ke level Rp 16.645 per dolar AS,” kata Fikri.
Menurutnya, investor saat ini cenderung bersikap wait and see terhadap hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping, serta perkembangan shutdown sebagian pemerintahan AS.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga masih menantikan rilis data ekonomi utama. “Investor juga wait and see terhadap data inflasi, neraca perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada pekan depan,” ujar Fikri.