Purbaya Soroti Aksi Goreng Saham di Balik Ambruknya IHSG 8%

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Karyawan mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). BEI menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah penurunan IHSG mencapai delapan persen ke posisi 8.261,79 imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara (hold) proses rebalancing indeks untuk saham-saham di pasar saham Indonesia.
29/1/2026, 04.55 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai salah satu penyebab ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 7,35% karena aksi ‘goreng saham’. 

Purbaya menyoroti masih maraknya praktik saham gorengan di pasar modal Indonesia. Menurutnya, isu tersebut menjadi salah satu faktor yang disoroti MSCI dalam menilai pasar keuangan domestik.

Ia mengungkapkan, melemahnya IHSG dipicu sentimen rilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. Situasi tersebut memicu Bursa Efek Indonesia memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt.

“IHSG kan jatuh karena berita yang MSCI itu, yang menganggap kita kurang transparan dan banyak goreng-gorengan saham segala macam kan,” kata Purbaya di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (28/1). 

Purbaya menyinggung para penggoreng saham yang berkeliaran dan merugikan para investor kecil.

“Banyak penggoreng-penggoreng saham yang bebas berkeliaran, untungnya banyak, sementara investor kecil mungkin sebagian dirugikan,” katanya.

Purbaya menyatakan telah meminta otoritas jasa keuangan (OJK) untuk memperkuat koordinasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) agar pembenahan pasar saham berjalan lebih cepat.

"Mereka (OJK) bilang ini akan dibereskan sebelum Mei. Jadi ini hanya shock sesaat," katanya.

Menurutnya, pelemahan IHSG ini merupakan reaksi pasar yang berlebihan. Pasalnya, laporan MSCI tersebut baru bersifat awal dan masih menyisakan waktu eksekusi hingga Mei. 

“Tidak usah takut, akan rebound karena pondasi ekonomi kami perbaiki secara betul-betul serius,” kata Purbaya.

Adapun IHSG anjlok hampir 7% pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (28/1). Penurunan terjadi imbas pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal hasil penilaian perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float di pasar modal Indonesia. 

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG ambruk 6,42% atau 576,52 poin ke level 8.403 pukul 9.01 WIB. Volume transaksi perdagangan mencapai 8.000 miliar saham. 

Sementara itu frekuensi perdagangan sebanyak 436,25 ribu kali dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 15.211 triliun Salah satu hasil pengumuman MSCI tersebut adalah memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. 

Hal ini dilakukan menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi (investability) pasar. Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyatakan telah menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. 

Dia menyatakan, kebanyakan investor global menyampaikan kekhawatiran terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melihat free float di saham Indonesia. 

Meskipun beberapa investor menyatakan dukungan penggunaan KSEI tersebut. Investor menyoroti masalah fundamental terkait kelayakan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat. 

Kendati demikian, investor mengakui bahwa terdapat beberapa peningkatan kecil pada data saham beredar Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Rabu (28/1).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman