Rupiah Loyo ke 16.837 per US$ Terimbas Aksi Jual Saham di AS Gara-Gara AI

ANTARA
Ilustrasi. Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.
Penulis: Agustiyanti
13/2/2026, 10.05 WIB

Nilai tukar rupiah melemah 0,07% ke level 16.839 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Jumat (13/2). Aksi penjualan saham atau sell off di Amerika Serikat seiring kabar dampak negatif kecerdasan buatan atau artificial intelligence diperkirakan berimbas ke rupiah. 

"Rupiah berpotensi melemah di tengah sentimen risk off dari sell off akibat AI di Amerika," ujar Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id. 

Ia memperkirakan, sentimen tersebut akan berimbas pada IHSG dan menekan rupiah ke kisaran 16.750-16,900 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka stagnan di level 16.828 per dolar AS. Namun, kurs bergerak melemah hingga pukul 09.50 WIB.

Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Yuan Cina melemah 0,06%, ringgit Malaysia 0,09%, baht Thailand 0,03%, serta won Korea Selatan dan yen Jepang masing-masing 0,26%.

Indeks saham Wall Street di Amerika Serikat ditutup merosot pada perdagangan Kamis (12/2) waktu setempat. Penurunan terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak negatif pembangunan dan ekspansi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 669,42 poin atau 1,34% dan ditutup di level 49.451,98. Indeks S&P 500 turun 1,57% dan berakhir di level 6.832,76, sedangkan Nasdaq Composite menurun 2,03% ke posisi 22.597,15.

Sejumlah segmen pasar saham terpukul sepanjang tahun ini seiring peluncuran berbagai alat AI yang dinilai mampu meniru bisnis eksisting atau setidaknya menggerus margin keuntungan. AI mulai dinilai berpotensi mengganggu model bisnis lintas industri serta mendorong kenaikan pengangguran.

Saham-saham sektor keuangan, termasuk Morgan Stanley yang tertekan akibat kekhawatiran AI bakal mengganggu bisnis pengelolaan kekayaan.Pada saat yang sama, saham perusahaan truk dan logistik seperti C.H. Robinson anjlok hingga 14% karena kekhawatiran AI akan mengefisienkan operasi pengiriman barang dan menekan sejumlah lini pendapatan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.