BI: Transmisi Kebijakan Suku Bunga di Perbankan Mulai Berjalan

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/agr
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni Primanto (kiri) menyampaikan keterangan pers terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (15/1/2025).
20/2/2026, 11.03 WIB

Bank Indonesia (BI) menyatakan transmisi kebijakan suku bunga ke sektor perbankan mulai menunjukkan hasil, tercermin dari penurunan suku bunga kredit dalam beberapa waktu terakhir.

Deputi Gubernur Senior BI, Desri Damayanti, mengatakan bank sentral mengoptimalkan instrumen Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk memperkuat transmisi kebijakan, baik melalui lending channel maupun interest channel.

“Total KLM yang sudah kami berikan sebesar Rp 427,5 triliun,” ujar Desri dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/2).

Dari jumlah tersebut, dana sebesar Rp 357,9 triliun dimanfaatkan melalui lending channel, yakni pemberian insentif kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor strategis dan prioritas. Sementara itu, Rp 69,6 triliun terserap melalui interest channel, yang baru diperkenalkan belakangan ini.

Insentif untuk Bank yang Turunkan Bunga Kredit

Melalui interest channel, BI memberikan insentif kepada bank yang secara persisten menurunkan suku bunga kredit (lending rate). Kebijakan ini mulai berdampak pada penurunan suku bunga kredit di pasar.

Desri mengungkapkan, suku bunga kredit eksisting saat ini telah turun sekitar 40 basis poin. Untuk kredit baru, penurunannya bahkan sudah mencapai 75 basis poin. Secara kumulatif, suku bunga kredit telah turun 125 basis poin sejak 2025.

“Kami rasa (penurunan bunga kredit) ini menunjukkan bahwa transmisi dari kebijakan suku bunga itu sudah mulai berjalan,” kata Desri.

Ia menambahkan, pemanfaatan KLM saat ini mencapai 4,83% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), sementara batas maksimalnya 5,5%. Artinya, masih terdapat ruang sekitar 0,7% yang dapat dimanfaatkan perbankan untuk memperoleh insentif tambahan.

“Jadi kami terus akan mendorong bank-bank untuk terus menyalurkan kepada sektor-sektor yang prioritas, seperti sektor padat karya, sektor hilirisasi, dan perumahan atau kepada penurunan lending rate itu sendiri,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah