Bank Sentral Singapura Siapkan Kebijakan Respons Gejolak di Timur Tengah

Unsplash
Bank sentral Singapura menyiapkan kebijakan untuk merespons meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang mulai memberi tekanan pada inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi global.
13/4/2026, 10.18 WIB

Bank sentral Singapura menyiapkan kebijakan untuk merespons meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang mulai memberi tekanan pada inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Menurut laporan Bloomberg, Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengisyaratkan kemungkinan penyesuaian kebijakan dalam tinjauan terbarunya, seiring lonjakan harga energi akibat konflik yang terus memanas. Kenaikan biaya impor, khususnya energi, dinilai berpotensi mendorong inflasi melampaui proyeksi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sebagai negara yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, Singapura menjadi salah satu ekonomi yang paling rentan terhadap gejolak harga minyak dan gas. Dampaknya mulai terasa melalui kenaikan biaya transportasi, listrik, serta logistik, yang pada akhirnya membebani pelaku usaha dan konsumen.

Pemerintah Singapura sebelumnya telah memperingatkan pertumbuhan ekonomi tahun ini kemungkinan akan melambat. Bahkan, beberapa proyeksi menunjukkan kontraksi ekonomi dalam jangka pendek akibat tekanan eksternal yang meningkat.

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, juga mengingatkan dampak konflik bisa lebih buruk dari yang diperkirakan pasar. “Saya cukup yakin pasar belum sepenuhnya memperhitungkan skenario terburuk,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Sebagai informasi, pada hari Selasa (14/4), Kementerian Perdagangan juga akan merilis kinerja ekonomi pada kuartal pertama setelah Singapura memperingatkan pertumbuhan ekonomi akan terdampak tahun ini.

Para ekonom memperkirakan produk domestik bruto Singapura menyusut 1% dalam tiga bulan pertama dibandingkan kuartal keempat. Secara tahunan, ekonomi negara tersebut diperkirakan tumbuh 5,9%.

Bank Sentral Singapura akan Revisi Prospek Inflasi

MAS, yang mengadakan empat tinjauan kebijakan setiap tahun, telah mengisyaratkan akan memperbarui prospek inflasi, ini dianggap sebagai sinyal yang menurut ekonom dapat mengindikasikan langkah kebijakan. Inflasi inti tahun ini kemungkinan berada di 1,9% menurut median survei, yang berada di batas atas proyeksi pemerintah pada Februari.

Berbeda dengan sebagian besar bank sentral yang menggunakan suku bunga, Singapura menjaga stabilitas harga jangka menengah dengan mengelola mata uangnya terhadap sekeranjang mata uang berbobot perdagangan dalam kisaran target yang tidak diungkapkan.

Dolar Singapura telah melemah terhadap dolar AS sejak perang di Iran dimulai. Meski demikian, kinerjanya masih lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah