Gubernur The Fed: Guncangan Harga Energi Belum Ganggu Ekspektasi Inflasi

123rf
Gubernur Federal Reserve (The Fed) Stephen Miran mengatakan guncangan harga komoditas energi yang dipicu oleh perang Iran sejauh ini belum berdampak pada ekspektasi inflasi jangka panjang.
14/4/2026, 14.09 WIB

Gubernur Federal Reserve (The Fed) Stephen Miran mengatakan guncangan harga komoditas energi yang dipicu oleh perang Iran sejauh ini belum berdampak pada ekspektasi inflasi jangka panjang. Namun, ia memperkirakan tekanan harga akan kembali ke target bank sentral dalam waktu satu tahun.

“Sejauh ini tidak ada bukti bahwa ekspektasi inflasi meningkat,” kata Miran, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/4).

“Dengan pasar tenaga kerja yang berada pada jalur secara bertahap, seperti yang telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir, sangat kecil kemungkinan kita akan mengalami spiral upah-harga. Jadi sejauh ini, kebijakan tradisional bank sentral untuk tidak merespons guncangan model tampaknya masih masuk akal,” ujarnya.

Miran menambahkan, bukti-bukti menunjukkan selama terjadi guncangan energi, harga barang dan jasa biasanya naik dengan cepat namun kemudian berhenti, sehingga membatasi dampaknya terhadap inflasi.

“Jika kita melihat satu tahun ke depan, saya melihat inflasi akan berada cukup dekat dengan target kami,” ujarnya.

Bank Sentral Mempertimbangkan Kenaikan Suku Bunga

Meski begitu Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 17–18 Maret menunjukkan semakin banyak pejabat The Fed yang khawatir perang Iran dapat semakin memicu inflasi dan menegaskan bahwa bank sentral mungkin perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Dalam pertemuan tersebut, para pejabat mempertahankan suku bunga acuan The Fed di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Miran menyatakan perbedaan pendapat dengan pejabat The Fed lainnya, ia justru menyerukan pemangkasan sebesar 0,25 poin persentase.

Ia juga telah mendorong para pembuat kebijakan lainnya untuk menurunkan suku bunga dengan lebih cepat sejak diangkat sebagai Gubernur The Fed oleh Presiden Donald Trump pada September lalu.

Miran juga dimintai pandangannya mengenai usulan untuk mengizinkan penyedia stablecoin, aset digital yang nilainya dipatok pada dolar AS, untuk membayar bunga kepada pemegangnya.

Gagasan ini mendapat dukungan dari sebagian pihak dalam pemerintahan Trump, namun ditentang keras oleh beberapa kelompok perbankan karena dikhawatirkan dapat menarik dana nasabah dari bank.

“Sejujurnya, saya tidak melihat ini sebagai hal yang terlalu besar. Pembayaran bunga mungkin akan mengalihkan sebagian simpanan dari bank ke stablecoin, tetapi saya tidak yakin besarnya dampak tersebut signifikan secara ekonomi,” kata Miran.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah