Bonus Demografi Tak Lagi Cukup, AI Bisa Jadi Kunci Lompatan Ekonomi RI

Youtube Katadata
Sesi diskusi panel "The Future of Work di IDE Katadata Future Forum 2026, menampilkan Catherine Lian, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN dan Antonius Santoso, Associate Partner McKinsey and Company, dengan moderator Ivan Triyogo Priambodo, VP Finance & Business Development Katadata, di Djakarta Theater, Rabu (15/4).
Penulis: Agustiyanti
15/4/2026, 11.39 WIB

Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk terhindar dari jebakan negara kelas menengah atau midle income trap. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence dinilai dapat menjadi alat utama untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5%. 

Associate Partner McKinsey & Company, Antonius Santoso menjelaskan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 20 tahun terakhir mencapai sekitar 4,9% per tahun. Pertumbuhan tersebut memang berada di atas rata-rata global, tetapi tak cukup untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi. 

"Untuk mencapai status itu, diperlukan lonjakan pertumbuhan yang lebih tinggi dan AI dapat menjadi salah satu alat utama untuk mencapai hal tersebut," ujar Antonius dalam IDE Katadata Feature Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4). 

Selama ini, menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia  banyak ditopang oleh bonus demografi. Namun ke depan, hal tersebut tidak bisa terus diandalkan. Indonesia membutuhkan lompatan produktivitas yang sebenarnya dapat direalisasikan melalui implementasi AI. 

Ia menekankan, penggunaan AI merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan, terutama dalam konteks perusahaan. Masa depan, menurut dia, akan dimiliki perusahaan yang dapat menggunakan AI. Sebaliknya, perusahaan yang mengabaikan akan tertinggal. 

"Bukan AI yang menggantikan manusia, melainkan manusia yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak, sehingga penting untuk segera mengadopsi AI secara aktif," ujar dia.

Sementara itu, menurut General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian, adopsi AI di berbagai organisasi Indonesia sebenarnya telah meningkat pesat sejak 2021 ataupasca-COVID. Sektor jasa keuangan menjadi yang paling cepat mengadopsi AI, disusul sektor telekomunikasi, pemerintahan, dan manufaktur. 

Meski demikian, menurut dia, masih terdapat kesenjangan, antara ketertarikan perusahaan mengadopsi AI dengan implementasinya. Menurut dia, ada tiga tahap adopsi AI. Pertama,  menentukan contoh penerapan AI yang relevan dengan bisnis serta memiliki dukungan sponsor eksekutif dan tim proyek . Kedua, proses penerapan atau implementasi dari hasil pilot atau uji coba tersebut. 

Ketiga, produksi atau AI sudah benar-benar digunakan dalam operasional bisnis.  Namun, menurut dia, banyak perusahaan berhenti di tahap kedua karena belum siap masuk ke tahap produksi.

"Padahal nilai nyata dari AI baru muncul ketika sudah masuk tahap produksi dan mampu menghasilkan monetisasi," ujar dia.

Ia mencontohkan, dari 197 proyek AI di Indonesia hanya lima yang berhasil diimpelementasik diimplementasikan atau digunakan dalam operasional bisnis. 

"Kunci keberhasilan tetap dimulai dari use case yang tepat dan setiap jenis perusahaan memiliki pendekatan berbeda terhadap AI mulai dari startup, SME, hingga perusahaan multinasional dan konglomerasi," kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.