Wanti-Wanti IMF soal Dunia Bakal Kekurangan Minyak dan Efek Buruk Subsidi BBM
Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan, dunia akan mengalami kekurangan minyak tahun ini, bahkan jika perang antara AS dengan Iran menemui titik temu pada pekan ini. IMF pun mengingatkan pemerintah di berbagai negara untuk tidak memaksakan diri menyubsidi harga energi.
Menurut IMF, banyak negara yang sudah mengalami tekanan pada kondisi keuangan atau fiskalnya, bahkan sebelum perang dimulai dan tidak boleh terus didorong hingga mendekati ambang batasnya.
Sekalipun penyelesaian perang antara Iran dengan AS berlangsung cepat, harga energi yang tinggi dan kekurangan pasokan masih akan menghantui perekonomian dunia.
"Jika semuanya berhenti malam ini dan, mulai besok, Selat Hormuz dibuka kembali. Kita masih akan menghadapi kekurangan minyak untuk tahun ini,” kata kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas dikutip dari CNN, Kamis (16/4).
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan terbarunya pada Selasa (14/4) mencatat, pasokan minyak global anjlok sebesar 10,1 juta barel per hari pada Maret. Menurut mereka, ini adalah gangguan terbesar dalam sejarah.
Meskipun IEA tidak memperkirakan kekurangan minyak tahun ini, mereka telah menurunkan perkiraan pasokan minyak global secara tajam. Kini IEA memperkirakan, poruksi hanya akan melebihi permintaan sebesar 441.000 barel per hari, anjlok dibandingkan laporan pada bulan lalu seanyak 2,4 juta barel per hari.
Angka-angka tersebut menyoroti perubahan dramatis dalam prospek pasar energi global dan ekonomi yang lebih luas sebagai akibat dari perang. Sebelum konflik, ekonomi global berkinerja lebih baik dari yang diharapkan, dengan pertumbuhan yang diperkirakan akan direvisi naik tahun ini.
Efek Buruk Subsidi BBM Berlebihan
IMF juga memperingatkan agar pemerintah tidak melakukan tindakan berlebihan dalam melidungi konsumen dari lonjakan harga energi. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menekankan, stabilitas makroekonomi dan keuangan adalah kunci dalam menghadapi ketidakpastian global.
"Dapat dimengerti, pemerintah ingin membantu bisnis dan masyarakat yang terkena dampak guncangan pasokan eksternal. Saran saya, pikirkan baik-baik sebelum bertindak," ujar Georgieva dalam Press Briefing Rabu (15/4), seperti dikutip dari laman IMF.
Ia menyebut terdapat sejumlah negara yang menerapkan langkah-langkah tidak terarah, berupa pengendalian ekspor, atau pemotongan pajak yang luas. Meskipun niat di balik langkah-langkah ini mungkin baik, yakni untuk melindungi masyarakat dari guncangan, menurut dia, tindakan yang tidak terarah tersebut hanya akan memperpanjang penderitaan akibat harga tinggi.
Menurut dia, para pembuat kebijakan perlu menyeimbangkan dengan cermat antara menjaga keberlanjutan fiskal dan melindungi mereka yang paling terdampak dan memiliki kapasitas paling sedikit untuk merespons. Kabar baiknya adalah banyak negara sejauh ini telah menghindari pemotongan pajak yang tidak terarah, subsidi energi, dan pengendalian harga. Kabar buruknya adalah kita melihat beberapa negara menerapkan langkah-langkah yang tidak terarah, pengendalian ekspor, atau pemotongan pajak yang luas. Meskipun niat di balik langkah-langkah ini mungkin baik, yaitu untuk melindungi masyarakat dari guncangan, tindakan yang tidak terarah tersebut hanya akan memperpanjang penderitaan akibat harga tinggi.
Ia menekankan, para pembuat kebijakan tak boleh melupakan kekuatan yang lebih luas yang memengaruhi ekonomi global, mulai dari geopolitik dan perdagangan hingga teknologi, demografi, dan iklim. "Kita harus menyesuaikan kebijakan dengan tren jangka panjang ini," kata dia.
Subsidi harga dapat mempersempit ruang fikal dan memperbesar kebutuhan sebuah negara untuk menarik utang. Padahal IMF sejak lama telah memperingatkan, utang publik global kini berada dalam level yang tinggi dan berbahaya. Utang publik global bahkan diperkirakan mencapai 100% PDB pada 2029, level yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia Dua.
"Saya ingin menekankan bahwa yang berbeda kali ini dibandingkan dengan Covid-19, adalah dampak kumulatif dari guncangan demi guncangan," ujar dia.