Rupiah Kian Tertekan, Melemah ke Level Rp 17.359 per dolar AS  

Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Penulis: Ade Rosman
4/5/2026, 10.30 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (4/5) pagi. Pengamat menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah .

Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.331 per dolar AS, kemudian pada pukul 09.48 WIB, rupiah semakin tertekan ke level Rp 17.459 per dolar AS. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah ini kemungkinan besar diakibatkan oleh dampak kondisi gejolak geopolitik yang masih menunjukkan ketidakpastian.

“Sekitar 50% itu pengaruhnya adalah dari geopolitik, tapi masih ada juga hal-hal lain,” kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Senin (4/5).

Ibrahim mengatakan, sejumlah faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, antara lain fluktuasi harga minyak dan logam mulia yang disebabkan konflik geopolitik di Timur Tengah, situasi politik AS, kebijakan bank sentral global, serta supply dan demand. 

Situasi perang antara Iran dengan AS dan Israel berpotensi berkepanjangan. Hal ini ditandai dengan langkah Presiden AS Donald Trump yang mempersiapkan misil. 

Perang yang Berkepanjangan

“Perang berkepanjangan kemungkinan besar akan terjadi. Bisa saja minggu depan ini akan terjadi perang kalau saya melihat dari penguatan dolar, kemudian penguatan minyak, kemudian pelemahan untuk harga emas dunia,” kata Ibrahim.  

Di sisi lain, Israel juga masih terus menyerang Lebanon. Hal ini mengindikasikan gencatan senjata antara Israel dengan Lebanon cukup rapuh sehingga Ibrahim menilai hal ini akan membuat kegaduhan tersendiri.

Ia juga menyebut kondisi politik AS memanas karena pemerintahan Trump membutuhkan dana besar untuk perang. 

“Perlu ada keputusan, persetujuan dari kongres, dan sampai saat ini pun juga masih digodok yang kemungkinan besar minggu depan ini, apakah disetujui atau tidak dalam perang tersebut,” kata Ibrahim. 

Ia memprediksi, Partai Republik di kongres masih memberikan loyalitasnya kepada Trump sehingga kemungkinan anggaran untuk perang akan disetujui. 

Dari sisi kebijakan bank sentral global, Ibrahim memprediksi bank-bank sentral kemungkinan akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan selanjutnya sehingga harga emas berpotensi turun. Kondisi ini mungkin terjadi jika harga minyak menyentuh angka US$ 150 per barel atau lebih. Kenaikan harga minyak itu akan berdampak pada inflasi sehingga bank sentral menilai perlu menaikkan suku bunga. 

“Tetapi kalau (harga minyak) di bawah US$ 150 per barel, kemungkinan besar bank sentral global masih tetap mempertahankan suku bunganya,” kata Ibrahim.  

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman