BPS Bakal Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi, Ini Ramalan Purbaya vs Ekonom
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal pertama 2026 pada Selasa (5/5). Pemerintah dan Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi awal tahun ini tumbuh lebih kuat dibandingkan akhir tahun lalu, meski dibayangi perang di Iran.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I dapat melampaui 5,5% secara tahunan. Salah satu motor utamanya adalah lonjakan belanja negara yang tumbuh signifikan pada awal tahun.
Hingga kuartal I 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp 815 triliun atau naik 31,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Percepatan belanja ini mendorong aktivitas ekonomi, terutama melalui penyaluran berbagai program pemerintah serta peningkatan transfer ke daerah. Selain itu, menurut Purbaya, penerimaan pajak yang tumbuh lebih dari 20% juga menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik mulai membaik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengeluarkan ramalam serupa. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan. Momentum hari besar keagamaan, seperti Idulfitri, serta meningkatnya mobilitas masyarakat turut menjaga daya beli.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat, kinerja ekonomi kuartal I cukup solid didukung oleh permintaan domestik tetap solid, didukung pendapatan yang terjaga dan kepercayaan konsumen.
Lantas bagaimana proyeksi para ekonom?
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan pertama tahun ini mencapai 5,3% secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi Purbaya. Menurut dia, konsumsi selama Ramadan dan Lebaran menjadi penggeraknya.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal juga memberikan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia serupa yakni di kisaran 5,25% - 5,35%. Menurut dia, belanja pemerintah menjadi salah satu pendukung ekonomi awal tahun tumbuh cukup kuat.
Sedangkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) lebih optimistis. “Pertumbuhan PDB kuartal pertama 2026 diproyeksikan sebesar 5,48 persen (yoy) dengan rentang estimasi 5,46 persen hingga 5,5 persen,” kata peneliti LPEM UI Jahen F. Rezki seperti dikutip dari Antara
Menurut dia, aktivitas investasi meningkat pada kuartal I 2026. Momentum Ramadan dan Lebaran serta pembagian THR memberikan daya ungkit terhadap konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Eko Listiyanto memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam tiga bulan pertama tahun ini tumbuh 5,4%. Namun, ia memperkirakan, kinerja ekonomi akan melambat pada kuartal kedua.
Eko menjelaskan, kinerja ekonomi kuartal I 2026 terdongkrak oleh konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri sehingga mampu mengangkat ekonomi tumbuh 5,4%, Namun memasuki kuartal II, dorongan tersebut tak ada lagi.
Pada kuartal kedua ini, menurut dia, hanya ada momentum Iduladha yang secara historis berdampak lebih kecil terhadap konsumsi masyarakat. Akibatnya, ruang untuk mempertahankan pertumbuhan di level yang sama terbatas.