Chatib Basri: Pelemahan Rupiah Dipicu Turunnya Kepercayaan terhadap Fiskal RI
Ekonom senior Chatib Basri menilai pelemahan nilai tukar rupiah bukan semata-mata dipicu oleh konflik geopolitik atau perang di Timur Tengah. Hal ini melainkan lebih banyak disebabkan oleh menurunnya kepercayaan atau confidence pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menurut mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, data justru menunjukkan peningkatan risiko fiskal memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pelemahan rupiah dibandingkan dampak perang Iran dengan AS dan Israel.
"Saya mau ajukan pertanyaan begini. Ini rupiah ini penyebabnya apa sih? Karena ini kan selalu dikatakan fundamental kita baik, pertumbuhannya masih 5,6%, inflasinya masih terkendali, semuanya relatif baik. Kalau begitu kenapa rupiahnya melemah?" kata Chatib dalam acara Grab Business Forum 2026, di Jakarta, Selasa (9/6).
Chatib menilai, pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan menggunakan asumsi atau penilaian kualitatif, namun perlu dibuktikan dengan analisis data.
Ia menggunakan indikator Credit Default Swap atau CDS sebagai proksi risiko fiskal. CDS merupakan instrumen yang sering digunakan investor untuk mengukur tingkat risiko suatu negara.
Menurutnya, semakin tinggi CDS suatu negara, semakin tinggi pula persepsi risiko investor terhadap kemampuan fiskal negara tersebut. "Hasilnya cukup menarik karena 23% dari pelemahan rupiah itu sebetulnya bisa dijelaskan oleh CDS. Di samping faktor lain. Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal confidence di fiskal," ujarnya.
Ia menegaskan, apabila persoalan tersebut dapat diatasi melalui kebijakan yang tepat, maka tekanan terhadap rupiah berpeluang mereda.
CDS Memburuk Sebelum Perang Iran
Lebih lanjut, Chatib juga membantah anggapan bahwa perang Iran-Israel menjadi penyebab utama depresiasi rupiah. Berdasarkan analisisnya, indikator CDS Indonesia justru sudah memburuk sebelum konflik tersebut memanas.
"CDS itu mulai memburuk sebelum perang. Jadi kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, that's not true," katanya.
Ia menambahkan, jika perang menjadi faktor dominan, maka pelemahan mata uang seharusnya juga terjadi secara serupa di banyak negara lain. Namun, pelemahan mata uang di negara lain tidak sedalam Indonesia.
Chatib juga menguji kemungkinan sebaliknya, yakni apakah pelemahan rupiah justru menjadi penyebab kenaikan CDS. Namun, hasil analisis menunjukkan pengaruhnya sangat kecil.
"Rupiah hanya bisa menjelaskan 2,3% dari movement CDS. Jadi granger causality test-nya itu menunjukkan bahwa yang bisa menjelaskan pelemahan rupiah, faktor yang paling besar itu adalah risiko dari fiskal," ujar Chatib.
Karena itu, Chatib menilai tantangan utama pemerintah saat ini bukanlah persoalan fundamental ekonomi yang memburuk, melainkan bagaimana memulihkan kepercayaan investor terhadap keberlanjutan fiskal. Ia menilai kekhawatiran pasar muncul karena prospek defisit anggaran dan keberlanjutan kebijakan fiskal ke depan.
"Bisa nggak defisitnya sustainable? Inilah yang kemudian menimbulkan anxiety dari investor," katanya.