Badan Pusat Statistik mencatatkan terjadi deflasi pada Juli 2026 sebesar 0,14%. Inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) pun melandai dari 3,34% pada Juni menjadi 2,28%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi bulanan Juli 2026 dengan andil deflasi sebesar 0,26% dan tingkat deflasi 0,89%.
Sementara itu, kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen dan kelompok pendidikan memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen.
“Beberapa komoditas yang menyumbang deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,11%, 0,06%, 0,06%, 0,03%, dan 0,03%,” ujar Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).
Berdasarkan komponennya, komponen bergejolak mengalami deflasi 1,68% dengan andil deflasi 0,28%. Sementara itu, komponen inti mengalami inflasi 0,14% dengan andil inflasi 0,09%, dan komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,25% dengan andil inflasi 0,05%.
Menurut wilayahnya, deflasi terdalam terjadi di Papua Pegunungan sebesar 1,37%, dan inflasi tertinggi terjadi di Kalimantan Barat sebesar 0,38%. Dari 38 provinsi, tercatat 27 provinsi mengalami deflasi, dan 11 provinsi mengalami inflasi.
Meski inflasi tahunan Juli lebih rendah dibandingkan Juni, angka inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,37%.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,87%, diikuti kelompok transportasi 0,62%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,61%.
Berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi, dengan andil inflasi tertinggi diberikan oleh komponen inti sebesar 1,76%, diikuti komponen harga diatur pemerintah 0,70%, dan komponen bergejolak 0,42%.
Pada komponen inti, inflasi utamanya didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya akademi/perguruan tinggi.
Seluruh provinsi tercatat mengalami inflasi tahunan, dengan inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat sebesar 5,47%, dan inflasi terendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46%.