Pemerintah Pede Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2027 Bisa Lebih dari 6%

ANTARA/Imamatul Silfia
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Hari Wibowo menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6% pada 2027 dapat tercapai, bahkan terlampaui.
Penulis: Ade Rosman
12/10/2026, 15.18 WIB

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Drajad Hari Wibowo menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6% pada 2027 dapat tercapai, bahkan terlampaui. Ia yakin target tersebut dapat tercapai setelah melihat angka pertumbuhan ekonomi per daerah. 

Hal itu disampaikan Drajad usai bertemu dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (12/10). 

Dalam pertemuan tersebut, ia menyebut ditunjukkan data oleh BPS mengenai persebaran pertumbuhan ekonomi di tiap daerah. 

“Jadi banyak (daerah) yang sudah tumbuh di atas 6%. Jadi insyaallah kalau ini bisa kita replikasi, target pertumbuhan ekonomi 2027 6%, itu insyaallah amat sangat visible, amat sangat reachable, amat sangat bisa dicapai, ya. Amat sangat bisa dicapai dan rasanya kalau lihat datanya Ibu Kepala BPS, data BPS, itu rasanya malah mungkin bisa lebih tinggi dari 6%,” kata Drajad di kantor BPS, Senin (12/10).

Jika kondisi ini dapat bertahan, Drajad meyakini target pertumbuhan ekonomi 8% seperti yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto pada 2029 dapat tercapai.

“Kalau itu bisa momentumnya bisa kita bangun, insyaallah target Presiden untuk pertumbuhan 8% itu sesuatu yang amat sangat bisa dicapai. Mudah-mudahan nanti kita akan koordinasi lebih rinci lagi, ya,” katanya.

Daya Beli Masyarakat Tidak Melemah

Di sisi lain, Drajad mengklaim daya beli masyarakat tidak melemah. Ia menyebut, berdasarkan laporan yang disampaikan BPS, mematahkan asumsi bahwa daya beli masyarakat Indonesia melemah. 

“Tidak betul kalau daya beli di Indonesia itu melemah, ya. Salah, ya. Jadi daya beli tidak melemah, buktinya banyak,” kata Drajad.

Ia menyebut, salah satu tolok ukur yang membuat pemerintah menilai daya beli masyarakat tidak melemah yaitu pertumbuhan di angka transportasi dan pariwisata. Ia menuturkan, dari data BPS yang ditunjukkan padanya, pemerintah menilai konsumsi masyarakat berkaitan dengan jalan-jalan terhitung sangat tinggi. 

“Transportasi itu tinggi sekali, karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang ‘halan-halan’, jalan-jalan, ya. Dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali. Restoran dan hotel juga, ya. Pariwisata meningkat apa, pariwisata meningkat sekali, ya,” kata dia. 

Drajad juga menyebut, faktor lainnya yang membuat pemerintah menilai daya beli masyarakat tidak melemah yakni dengan meningkatnya transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). 

“Transaksi QRIS itu penikatannya sampai di atas 100%, ya. Ya kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi,” katanya.

Ia menegaskan, tidak ada pelemahan daya beli masyarakat. Namun terdapat pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan. Salah satunya berupa pergeseran dari belanja secara langsung, menjadi belanja daring di marketplace. 

Di sisi lain, ia menuturkan, perekonomian di daerah yang meningkat. Ia menyebut sejumlah daerah bahkan tumbuh sangat bagus. Dari segi inflasi, ia menyebut hal itu terjadi karena didorong oleh faktor suplai. 

Ia menggambarkan, situasi inflasi saat ini lantaran daya beli bagus namun suplainya tidak mencukupi. 

“Daya belinya bagus, nih, tapi kita suplai-suplai cabe, suplai apa-apanya agak kurang. Atau mungkin kalau tadi ada inflasi elektronik, ya elektronik masih impor. Nah, ini yang akhirnya mendorong inflasi,” kata Drajad.

Pada kesempatan yang sama, Amalia menuturkan, berdasarkan data BPS terdapat 99 kabupaten/kota yang tumbuhnya di atas 5% selama September 2026. 

“Artinya, pertumbuhan ekonomi nasional itu sebenarnya adalah agregasi dari pertumbuhan ekonomi daerah, pertumbuhan ekonomi nasional agregasi dari pertumbuhan ekonomi provinsi dan pertumbuhan ekonomi provinsi itu adalah agregasi dari pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota,” kata Amalia. 

Selain itu, ia menuturkan, terdapat beberapa kabupaten/kota yang tumbuhnya di atas 8%. Ia menyebut Kendal sebagai salah satu contohnya, yang ditopang oleh industri manufaktur.

Batang yang juga disebut tumbuh di atas 8% lantaran terdapat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang. Gorontalo juga disebut pertumbuhannya di atas rata-rata ekonomi nasional. 

Amalia menuturkan, selain daerah yang berbasis tambang, ada pula daerah bukan basis tambang yang pertumbuhannya tinggi . Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan salah satunya yang disebut pertumbuhannya mendekati 7% karena meningkatkan produktivitas di sektor pertanian.

"Jadi tadi saya sampaikan bahwa yang perlu didorong adalah ekonomi Sumatra. Jawa, semua provinsi di Pulau Jawa sudah tumbuh di atas rata-rata ekonomi nasional. Beberapa provinsi juga namun beberapa provinsi masih tumbuh di bawah rata-rata nasional ini harus didorong dan kami sudah sampaikan informasinya kepada Pak Wamenko," kata Amalia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman