IHSG Bergejolak, Airlangga Rapat dengan KSSK dan Otoritas Pasar Modal Siang Ini

Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akan menggelar rapat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan otoritas pasar modal, pada Jumat (16/10).
Penulis: Ade Rosman
16/10/2026, 14.34 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akan menggelar rapat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan otoritas pasar modal, pada Jumat (16/10). 

KSSK sendiri terdiri dari empat lembaga utama yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). 

Pertemuan ini dilakukan usai lembaga pengelola indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia, yang berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah dan bergejolaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

“Sudah ada (rencana rapat). Ya, pokoknya hari ini,” kata Airlangga kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10). 

Airlangga menyebut, pengumuman MSCI berdampak terhadap pergerakan pasar keuangan Indonesia. Ia mengatakan, pengumuman tersebut keluar lebih cepat dari yang sebelumnya disampaikan, yakni pada November 2026. 

“Pertama, tentu ada akibat daripada pengumuman MSCI (IHSG dan pelemahan rupiah). Tapi pengumuman MSCI itu merupakan suatu hal yang lebih cepat daripada ekspektasi,” kata dia.

MSCI memberikan tenggat lanjutan hingga 2027, yakni pada April dan Juni. Pemerintah pun menilai perlu ada langkah konkret untuk menindaklanjuti berbagai perhatian yang disampaikan penyedia indeks global tersebut.

Airlangga menuturkan, salah satu perhatian utama MSCI berkaitan dengan implementasi regulasi dan langkah aksi yang dilakukan otoritas bursa. Proses implementasi yang dinilai relatif panjang dibandingkan negara lain menjadi salah satu hal yang perlu dijelaskan dan dievaluasi.

“Reformasi itu harus dijalankan dan progresnya harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor, dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.

Di sisi lain, Airlangga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Dia menyebut sentimen pasar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi saat ini.

Menurutnya, investor perlu membedakan tekanan yang berasal dari sentimen dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia serta penilaian lembaga pemeringkat lainnya.

“Sebetulnya kita punya fundamental ekonomi kuat, tetapi yang dimainkan sekarang faktor sentimen,” kata Airlangga. 

MSCI Wacanakan Penurunan Status Pasar Modal Indonesia

Adapun, MSCI tengah mempertimbangkan menurunkan status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) ke pasar mandiri (standalone market) imbas kekhawatiran yang terus berlanjut terkait kelayakan investasi (investability) dan tata kelola pasar saham di Indonesia.

Merujuk laporan Reuters, MSCI telah membuka konsultasi mengenai usulan penurunan status ini setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan pada bulan Juni bahwa Indonesia dapat menghadapi reklasifikasi jika masalah aksesibilitas pasar terus berlanjut.

MSCI menyampaikan, para investor telah menyuarakan kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan saham, serta dugaan perdagangan terkoordinasi hal-hal yang dinilai mengikis kelayakan investasi di pasar tersebut.

“Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi berkelanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dan membuka konsultasi mengenai usulan untuk mereklasifikasi Indonesia sebagai Standalone Market,” kata MSCI dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).

Konsultasi atas usulan reklasifikasi akan berlangsung hingga 30 April 2027. Adapun keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman