Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir hingga pada Selasa (19/5) menyentuh di level Rp 17.700.

Situasi global dan domestik yang bersamaan memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan Indonesia menjadi faktor yang membuat kurs rupiah melemah.

Kondisi tersebut membuat harga kedelai impor mengalami kenaikan dan berimbas ke pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) keripik tempe di kawasan Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Salah satu pengrajin, Martinah (61) mengungkapkan bahwa harga jual produk keripik tempe di tempatnya ikut naik setelah harga kedelai melonjak. "Semua harga sekarang naik, kedelai juga mahal," ujarnya kepada Katadata.co.id

Ia menjelaskan kenaikan harga keripik tempe mulai terjadi pada saat bulan puasa, dari sebelumnya dijual Rp 75 ribu per kilogram (kg), kini harganya naik Rp 5.000 menjadi Rp 80 per kg.

Selain didasari oleh kenaikan harga bahan baku kedelai, Martinah mengatakan meroketnya harga kemasan plastik dan minyak turut menjadi faktor pengerek membengkaknya biaya produksi

Hal tersebut membuatnya terpaksa menaikkan harga jual produk usahanya "Awalnya kerepotan, harga naik atau tidak, saya kan perlu gaji karyawan juga. Akhirnya setelah dicatat, harganya harus saya naikkan," tambahnya.

Dalam sehari Martinah yang dibantu oleh 20 pekerjanya mampu memproduksi hingga 120 kg keripik tempe. Produk tersebut selanjutnya disuplai ke gerai swalayan dan ritel modern serta dipasarkan melalui platform belanja online.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Fauza Syahputra