Relevansi Heckman Equation bagi Indonesia untuk Menghindari Middle Income Trap
Bagi mahasiswa tingkat akhir program sarjana maupun pascasarjana di bidang ekonomi yang mengikuti kuliah Advanced Econometrics, James Heckman bukanlah nama yang asing. Profesor dari University of Chicago ini dianugerahi Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2000, bersama Daniel McFadden (University of California, Berkeley), atas kontribusinya dalam metodologi ekonometri mikro, khususnya terkait selection bias dan self-selection, yang dikenal luas melalui pendekatan Heckman Correction.
Namun, kontribusi Heckman yang paling berdampak dalam dekade terakhir justru lahir dari ranah kebijakan mikro dan ekonomi pendidikan. Ia memusatkan perhatian pada urgensi investasi negara dalam pendidikan anak usia dini (early childhood development/education atau PAUD) sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas modal manusia dan mengatasi permasalahan sosial seperti ketimpangan pendapatan, kriminalitas, dan stagnasi mobilitas sosial. Pemikirannya ini menjadi salah satu referensi dalam pidato kenegaraan Presiden Barack Obama pada Februari 2014, yang menekankan pentingnya intervensi negara sejak usia dini guna mengoreksi ketimpangan struktural di Amerika Serikat.
Dalam konteks Indonesia, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo bagi seluruh anak usia sekolah hingga 12 tahun—jika didesain secara terpadu dengan pendidikan dasar—dapat dilihat sebagai upaya untuk menginternalisasi gagasan Heckman Equation. Penyediaan nutrisi bukanlah kebijakan tersendiri, melainkan bagian integral dari pembentukan fondasi kecerdasan dan kecakapan sosial anak. Oleh karena itu, keberhasilan program MBG sangat tergantung pada sejauh mana ia diintegrasikan ke dalam pendekatan kebijakan pendidikan berbasis siklus hidup (life-cycle based human capital policy).
Heckman Equation dan Fondasi Awal Kehidupan
Gagasan utama Heckman dirumuskan dalam Heckman Equation, sebuah hasil kolaborasi lintas disiplin antara ekonom, psikolog perkembangan, ahli statistik, dan neuroscientist. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa periode paling kritis dalam pembentukan kemampuan kognitif dan non-kognitif manusia terjadi pada usia dini, khususnya antara kelahiran hingga usia lima tahun, ketika otak berkembang paling pesat dan menetapkan dasar bagi kemampuan belajar, pengendalian diri, serta keterampilan sosial.
Investasi pada usia dini memberikan tingkat pengembalian (return on investment/ROI) yang sangat tinggi—bahkan melebihi ROI pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Heckman (2011) memperkirakan bahwa setiap satu dolar yang diinvestasikan pada PAUD berkualitas akan menghasilkan ROI sebesar 7–10 persen per tahun, dalam bentuk peningkatan produktivitas, penurunan kriminalitas, dan pengurangan ketergantungan terhadap bantuan sosial.
Dengan demikian, ketimpangan sosial bukan semata akibat dari distribusi pendapatan yang tidak merata, melainkan karena kegagalan membentuk kualitas sumber daya manusia sejak awal kehidupan. Solusi kebijakan yang efektif harus bergerak dari pendekatan remedial ke pendekatan preventif berbasis pembangunan manusia sejak balita.
Relevansi untuk Indonesia: Modal Sosial, Mobilitas, dan Middle Income Trap
Apa relevansinya dengan upaya menghindari dari perangkap pendapatan menengah atau middle income trap? Mengikuti persamaan akuntansi pertumbuhan endogen (endogenous growth model, sumber pertumbuhan ekonomi (untuk menghindari middle income trap) akan berasal dari tiga sumber yaitu:
- akumulasi kapital;
- akumulasi penduduk dan human capital
- produktivitas
Pratama dan Rendy (forthcoming) menunjukkan peranan penduduk dan perbaikan mutu modal manusia tergolong relatif paling rendah dalam pertumbuhan ekonomi selama pemerintah pasca-Orde Baru. Perbaikan kualitas sumber daya manusia akan tergantung dari investasi pada saat kelompok bermain hingga sekolah dasar. Kesemuanya merupakan pemenuhan necessary condition.
PAUD sebagai Strategi Pembangunan Modal Manusia
Dalam konteks transformasi struktural dan digitalisasi ekonomi, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam hal produktivitas tenaga kerja dan dualisme pasar kerja. Pendidikan usia dini berkualitas akan memperkuat learning ability anak-anak di jenjang pendidikan berikutnya, memperkecil angka drop-out, dan meningkatkan kesiapan kerja di usia produktif.
Tanpa fondasi awal yang kuat, ketimpangan kualitas SDM akan semakin melebar dan menciptakan struktur ekonomi yang timpang antara segmen tenaga kerja formal yang terdidik dan pekerja informal berproduktivitas rendah. Kegagalan dalam tahap awal ini juga memperbesar dependency ratio, menurunkan daya saing nasional, dan memperkuat risiko terjebaknya Indonesia dalam middle income trap.
PAUD dan Mobilitas Sosial Antar-Generasi
Meskipun Indonesia belum memiliki studi longitudinal berskala nasional tentang mobilitas sosial, bukti anekdotal dan pengamatan mikro menunjukkan adanya keterbatasan pergerakan vertikal antar generasi. Keluarga miskin—khususnya di desil terbawah—menghadapi kendala serius dalam hal nutrisi, pendidikan dini, dan lingkungan belajar yang kondusif.
Temuan Chetty, Hendren, dan Katz (2016) di AS menunjukkan bahwa mobilitas sosial sangat tergantung pada konteks geografis dan latar belakang keluarga. Anak-anak dari lingkungan miskin memiliki kemungkinan yang jauh lebih kecil untuk naik ke kelas sosial yang lebih tinggi jika tidak mendapatkan intervensi struktural sejak usia dini. Kondisi serupa sangat mungkin terjadi di Indonesia, dan PAUD merupakan alat intervensi paling cost-effective untuk mengubah lintasan hidup kelompok rentan.
Penutup: PAUD sebagai Kebijakan Progresif dan Produktif
Investasi dalam PAUD bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga kebijakan ekonomi strategis. Ia adalah bentuk nyata pembangunan inklusif yang memperkuat kualitas manusia sejak awal, memutus rantai ketimpangan antargenerasi, serta menyiapkan generasi kerja yang adaptif, produktif, dan resilien dalam menghadapi disrupsi teknologi maupun perubahan iklim ekonomi global.
Indonesia memerlukan visi pembangunan manusia yang lebih menyeluruh, yang tidak hanya berkutat pada kurikulum dan angka partisipasi sekolah, tetapi menyentuh akar dari kemampuan belajar dan berkembang—yaitu masa awal kehidupan. Dalam kerangka itulah, pemikiran James Heckman seharusnya dijadikan pijakan utama dalam merancang kebijakan pendidikan dan perlindungan sosial nasional yang berorientasi masa depan.
Referensi
- Chetty, R., Hendren, N., & Katz, L. F. (2016). The effects of exposure to better neighborhoods on children: New evidence from the Moving to Opportunity experiment. American Economic Review, 106(4), 855–902. https://doi.org/10.1257/aer.20150572
- Heckman, J. J. (2011). The economics of inequality: The value of early childhood education. American Educator, 35(1), 31–47.
- Heckman, J. J., & Masterov, D. V. (2007). The productivity argument for investing in young children. Review of Agricultural Economics, 29(3), 446–493.
- OECD. (2018). Starting Strong: Early Childhood Education and Care (ECEC) Country Profiles – Indonesia. OECD Publishing.
- World Bank. (2020). The promise of early childhood development in Indonesia. Washington, DC: World Bank Group.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.