Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8%, meskipun menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di banyak daerah di Indonesia, upaya pencegahan stunting pun semakin gencar dilakukan. Edukasi gizi diperkuat, makanan tambahan dibagikan, dan kampanye kesehatan digalakkan. Langkah-langkah ini penting. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa stunting jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan asupan gizi.
Dampaknya pun tidak selalu kasat mata. Anak bisa terlihat aktif seperti biasa, tetapi mengalami pertumbuhan yang melambat, lebih rentan sakit, atau berisiko mengalami gangguan perkembangan jangka panjang. Stunting bukan sekadar soal tinggi badan, melainkan berdampak pada perkembangan kognitif, produktivitas jangka panjang, dan kualitas sumber daya manusia.
Secara struktural, stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan ibu, kualitas sanitasi, akses air bersih, hingga ketimpangan layanan kesehatan antarwilayah. Karena itu, intervensi gizi perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem pendukung.
Stunting Dimulai Jauh Sebelum Anak Lahir
Salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah anggapan bahwa stunting baru terjadi setelah anak lahir. Padahal prosesnya bisa dimulai sejak masa kehamilan, ketika kebutuhan gizi dan kesehatan ibu tidak terpenuhi secara optimal.
Pada fase inilah intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan menjadi krusial untuk memutus siklus stunting. Salah satu organisasi yang bekerja di area ini adalah Jhpiego. Organisasi kesehatan global yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari 40 tahun ini kini bekerja di 17 distrik dengan fokus pada penguatan kesehatan ibu dan bayi, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Melalui pelatihan tenaga kesehatan, pendampingan ibu hamil, dan penguatan layanan primer, pendekatan ini berupaya mencegah stunting dari hulunya—kesehatan ibu. Namun kesehatan ibu hanyalah satu bagian dari persoalan stunting yang lebih besar.
Tantangan yang Bersifat Sistemik
Dalam banyak kasus, stunting bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan persoalan lingkungan, kemiskinan, dan ketimpangan sistem layanan dasar. Wilayah dengan keterbatasan air bersih, layanan kesehatan yang minim, dan akses informasi gizi yang belum merata menghadapi risiko yang lebih besar.
Papua menjadi salah satu contoh wilayah dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap faktor- faktor tersebut. Di wilayah dengan tantangan yang saling berkaitan seperti ini, pendekatan kolaboratif menjadi semakin krusial. Sinergi antara pemerintah, organisasi pembangunan, dan sektor swasta pun mulai diperkuat sebagai bagian dari strategi penurunan stunting.
Untuk mendukung upaya tersebut, PT Freeport Indonesia bersama USAID dan World Vision menjalankan inisiatif penurunan stunting dengan komitmen pendanaan sebesar US$3,53 juta untuk periode 2024–2026 guna mendukung perbaikan gizi anak, kesehatan ibu, serta penguatan layanan berbasis komunitas di wilayah seperti Mimika dan Asmat.
Air Bersih, Faktor yang Sering Terlewat
Akses air bersih dan sanitasi layak merupakan determinan penting dalam pencegahan stunting, meskipun sering kali tidak dikaitkan langsung dengan isu gizi. Tanpa sanitasi yang layak, anak lebih rentan mengalami infeksi seperti diare atau cacingan yang menghambat penyerapan nutrisi. Akibatnya, asupan makanan yang cukup belum tentu mendukung pertumbuhan optimal. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak pernah berdiri sendiri.
Karena itu, perbaikan infrastruktur air bersih menjadi bagian penting dari upaya pencegahan stunting. Melalui program penyediaan air bersih, ExxonMobil Indonesia membangun 56 menara air, memasang 119 kilometer pipa, dan menjangkau lebih dari 40.000 warga di berbagai wilayah. Upaya ini membantu memastikan bahwa intervensi gizi dapat berjalan lebih efektif karena didukung oleh lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Penanganan stunting memang jarang menghasilkan dampak instan. Namun konsistensi dalam memperkuat gizi, kesehatan ibu, sanitasi, dan layanan kesehatan akan menentukan kualitas generasi di masa depan.
Pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14% melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting dengan pendekatan konvergensi lintas sektor. Namun capaian target tersebut sangat bergantung pada efektivitas koordinasi pusat dan daerah serta keterlibatan sektor non-pemerintah.
Jika stunting terus dipersempit sebagai persoalan gizi semata, intervensi yang dilakukan akan bersifat parsial. Padahal yang dipertaruhkan adalah kualitas sumber daya manusia, produktivitas nasional, dan daya saing Indonesia dalam jangka panjang.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.