Ketika dunia masih dibayangi perang, gejolak harga minyak, dan ketidakpastian arah suku bunga global, ekonomi Indonesia justru menunjukkan akselerasi yang cukup mengejutkan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia melejit 5,61% yoy pada kuartal I-2026, lebih tinggi dibandingkan 5,39% yoy pada triwulan sebelumnya. Kinerja ini menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Angka ini bukan sekadar perbaikan biasa. Sebelum Kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir kali berada di level yang sangat tinggi pada kuartal III-2022 sebesar 5,73% yoy, ketika ekonomi dunia menikmati fase reopening pascapandemi dan harga komoditas melonjak tinggi.
Bahkan jika ditarik lebih jauh ke belakang, pertumbuhan 5,61% yoy ini, ternyata melampaui capaian kuartal IV-2013 yaitu 5,58% yoy. Artinya, di tengah kondisi global yang jauh lebih berat dibandingkan periode-periode tersebut, ekonomi Indonesia justru mampu menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.
Di balik pertumbuhan tersebut, ada satu faktor yang terlihat sangat dominan: pengeluaran pemerintah. Ketika banyak mesin pertumbuhan belum sepenuhnya kuat, fiskal tampil sebagai penyangga utama ekonomi. Dalam konteks ini, tidak berlebihan jika dikatakan awal 2026, belanja pemerintah menjadi “Dewi Fortuna” pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Konsumsi rumah tangga memang tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional, dengan kontribusi sekitar 54% terhadap PDB. Pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 2,94 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun dorongan terbesar yang berubah cukup signifikan justru datang dari sisi fiskal. Konsumsi pemerintah melonjak signifikan dan memberikan kontribusi sekitar 1,26 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Yang menarik, kontribusi tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan periode Pemilu 2024. Pada kuartal I-2024, ketika aktivitas politik dan belanja terkait pemilu meningkat tajam, kontribusi pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi berada di sekitar 1,09 poin persentase. Artinya, dorongan fiskal pada awal 2026 justru melampaui periode yang secara historis identik dengan lonjakan belanja pemerintah.
Ini memberi pesan penting. Pertumbuhan kuartal I-2026 bukan sekadar didorong faktor musiman, tetapi menunjukkan pemerintah memang sedang memainkan peran yang jauh lebih dominan dalam menjaga momentum ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Situasi global memang belum sepenuhnya bersahabat. Ketegangan geopolitik masih tinggi. Harga minyak bergerak volatil. Suku bunga global juga masih berada dalam fase higher for longer. Dengan kondisi seperti ini, banyak pelaku usaha memilih menahan ekspansi, sambil menunggu arah ekonomi global dan domestik menjadi lebih jelas.
Di titik itulah fiskal mengambil peran penting dan katalis. Belanja pemerintah bekerja melalui banyak saluran sekaligus. Penyaluran bantuan sosial, proyek infrastruktur, bantuan pangan, hingga berbagai program prioritas ikut menciptakan perputaran ekonomi yang lebih kuat pada awal tahun. Momentum Ramadan dan Idul Fitri juga memperbesar efek penggandanya terhadap konsumsi masyarakat.
Dampaknya terlihat cukup jelas. Permintaan domestik menguat. Aktivitas perdagangan meningkat. Mobilitas masyarakat naik. Sektor jasa bergerak lebih ekspansif. Bahkan investasi mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa triwulan sebelumnya.
Karena itu, pemerintah layak mendapatkan apresiasi. Di tengah tekanan global yang berat, fiskal hadir menjaga momentum ekonomi nasional. Tidak semua negara memiliki ruang seperti ini. Banyak negara justru menghadapi tekanan utang dan keterbatasan fiskal yang membuat kemampuan stimulus semakin sempit. Indonesia masih mampu menjaga pertumbuhan tetap berada di atas 5% ketika banyak negara menghadapi perlambatan ekonomi.
Namun pertanyaan berikutnya menjadi semakin penting: seberapa kuat fiskal mampu menjaga momentum hingga akhir tahun? Seberapa panjang napas APBN mampu menjaga momentum ini? Inilah tantangan utama memasuki kuartal II hingga kuartal IV-2026. Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya kuat pada awal tahun. Yang lebih penting adalah menjaga momentum dan keseimbangannya hingga finis.
Dengan demikian, keberlanjutan kekuatan dan kesehatan APBN akan menjadi faktor yang sangat menentukan. Problemnya, tekanan fiskal tahun ini tidak kecil. Harga minyak dunia masih bergerak liar dan tinggi akibat perang Timur Tengah. Hal ini penting karena APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak yang jauh lebih rendah dibandingkan risiko harga saat ini. Ketika harga energi meningkat, tekanan subsidi dan kompensasi energi otomatis ikut membesar.
Dalam simulasi fiskal pemerintah, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel dapat menambah belanja negara Rp10,3 triliun. Artinya, jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, ruang fiskal akan semakin tertekan.
Di sinilah tantangan pengelolaan APBN menjadi jauh lebih kompleks. Pemerintah harus menjaga pertumbuhan, tetapi pada saat yang sama juga menjaga kesehatan fiskal. Jika fiskal terlalu agresif terlalu lama, defisit berpotensi melebar. Namun jika terlalu cepat direm, pertumbuhan bisa kehilangan tenaga sebelum mesin swasta benar-benar pulih.
Oleh karena itu, kualitas belanja menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar besarnya belanja. Fokusnya bukan lagi hanya seberapa besar anggaran dibelanjakan, tetapi seberapa kuat dampaknya terhadap aktivitas ekonomi produktif.
Belanja yang menciptakan efek pengganda besar terhadap konsumsi masyarakat, UMKM, lapangan kerja, dan produktivitas akan jauh lebih efektif dibandingkan belanja yang hanya bersifat administratif.
Di sisi lain, peran sektor swasta juga perlu mulai diperkuat kembali. Fiskal tidak bisa menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan secara permanen. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang sehat tetap membutuhkan investasi swasta, ekspansi dunia usaha, dan kredit produktif yang lebih kuat.
Perbankan sebenarnya masih memiliki likuiditas yang cukup baik. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) relatif solid dan rasio likuiditas tetap terjaga. Namun permintaan kredit memang belum sepenuhnya agresif karena dunia usaha masih cenderung berhati-hati menghadapi situasi global.
Jadi, menjaga keyakinan pelaku usaha menjadi sangat penting pada semester kedua tahun ini. Stabilitas nilai tukar, inflasi yang terkendali, kepastian kebijakan, dan percepatan realisasi proyek produktif akan sangat menentukan apakah sektor swasta mulai lebih berani melakukan ekspansi.
Pada akhirnya, pertumbuhan 5,61%yoy pada kuartal I-2026 memberikan pesan penting bahwa ekonomi Indonesia masih ada harapan. Ketika tekanan global meningkat, Indonesia masih mampu tumbuh kuat karena ditopang oleh permintaan domestik dan keberanian fiskal menjaga momentum.
Fiskal telah berhasil menjadi “Dewi Fortuna” awal tahun ini. Tantangan berikutnya mungkin jauh lebih sulit: menjaga pertumbuhan tetap hidup hingga akhir tahun, tanpa mengorbankan kesehatan APBN dan kepercayaan pasar. Kali ini, APBN diharapkan sebagai pelari sprinter, sekaligus pelari maraton. Inilah ujian yang sesungguhnya.
Tulisan ini merupakan pandangan pribadi, tidak mewakili institusi penulis bekerja.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.