Fenomena “Mas Bahlil Ganteng”: Tatkala Kekuasaan Menjadi Sound TikTok

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Muhammad Iqbal
20/6/2026, 06.05 WIB

Seseorang membuka TikTok saat menunggu kopi, menunggu ojek, atau sekadar menghindari suntuk. Ia tidak sedang mencari kabar politik. Ia tidak ingin mendengar janji pejabat. Ia tidak berniat memeriksa program partai. Lalu sebuah lagu pendek muncul: “Mas Bahlil Ganteng.” Nadanya ringan. Liriknya semenjana. Potongan wajah pejabat bergerak mengikuti irama. Orang tertawa, menonton ulang, lalu mengirimkannya ke grup percakapan.

Beberapa menit kemudian, nama Bahlil Lahadalia tinggal di kepala orang yang mungkin tidak mengikuti berita energi, tambang, investasi, atau Golkar. Politik telah bekerja tanpa harus terlihat seperti politik. Ia tidak meminta orang percaya. Ia hanya meminta orang mengulang.

Fenomena ini tampak remeh karena datang sebagai hiburan. Namun politik sering bersembunyi dalam benda kecil: lagu, warna, slogan, sapaan, gestur, potongan kalimat, dan bunyi yang mudah diingat. Di era platform, kekuasaan tidak perlu selalu berpidato. Ia cukup menjadi sound.

Dari Lagu Perjuangan ke Lagu Viral

Sejarah politik mengenal musik sebagai alat pembentuk ingatan. Negara memakai lagu kebangsaan untuk merawat rasa kolektif. Partai membuat jingle agar pemilih mengingat nama calon. Gerakan sosial menyanyikan lagu untuk menjaga keberanian. Rezim memakai mars untuk mendisiplinkan tubuh massa. Musik tidak selalu menghias politik. Musik sering membantu politik bergerak.

Annie J. Randall dalam Music, Power, and Politics memberi peringatan penting. Persoalan utama bukan apakah musik memiliki kekuatan ajaib untuk memaksa orang. Persoalan terletak pada cara musik dipakai, dikontrol, dan dibicarakan dalam relasi kekuasaan (Randall, 2005). Dengan kata lain, lagu menjadi politik ketika ia masuk ke dalam perebutan makna.

Dulu kekuasaan menyukai lagu nan megah. Ia memilih mars, himne, lagu pembangunan, dan nyanyian yang meminta hormat. Kiwari kekuasaan dapat hidup dalam bentuk yang lebih ringan. Ia bisa masuk melalui bunyi pendek, lirik jenaka, remix, meme, dan potongan video. Pejabat tidak harus tampil jauh dan sakral. Ia cukup hadir sebagai nama yang terasa akrab.

Di sana “Mas Bahlil Ganteng” menemukan tempatnya. Lagu ini tidak perlu serius untuk punya efek politik. Justru karena terasa main-main, ia mudah bergerak.

Nama yang Diulang

MBG (Mas Bahlil Ganteng) tidak menjelaskan kebijakan. Ia tidak membahas subsidi, energi, tambang, hilirisasi, investasi, atau relasi negara dengan korporasi. Lagu itu hanya mengulang nama Bahlil, membungkusnya dalam kelucuan, lalu menyerahkannya kepada pengguna media sosial.

Dalam politik lama, pengulangan membutuhkan biaya besar. Tim kampanye membeli iklan, memasang baliho, menyebar spanduk, menggelar panggung, dan mencetak kaus. Dalam politik platform, pengulangan dapat lahir dari publik sendiri. Satu orang memakai sound. Orang lain membuat parodi. Media menulis berita. Politikus merespons. Partai memberi komentar. Pemengaruh ikut bermain. Nama yang sama berpindah dari satu layar ke layar lain.

Jeremy Harris Lipschultz menyebut media sosial sebagai ruang komunikasi politik yang bising dan terpecah. Ia menunjukkan bagaimana propaganda, persuasi, iklan politik, pemengaruh, meme, TikTok, dan algoritma ikut membentuk opini publik (Lipschultz, 2023). Dalam ruang seperti itu, kampanye tidak selalu memperkenalkan diri sebagai kampanye. Ia bisa datang sebagai candaan, musik, atau video pendek.

Politik platform tidak selalu mengejar keyakinan. Ia mengejar keintiman. Seseorang tidak harus menyukai tokoh politik untuk terus mengingat namanya. Dalam pemilu, ingatan sering menjadi modal awal.

Satire yang Berbalik Arah

Banyak orang mungkin membaca MBG sebagai satire. Liriknya ganjil. Nadanya ringan. Cara penyajiannya terasa laksana lelucon terhadap figur kekuasaan. Satire memang memberi publik cara menurunkan derajat pejabat. Ia membuat penguasa tampak manusiawi, rapuh, bahkan lucu. Dalam masyarakat yang sering takut mengkritik langsung, humor menjadi jalan memutar.

Tetapi satire digital punya nasib yang selit belit. Ia bisa lahir sebagai sindiran, lalu berubah menjadi panggung bagi orang yang disindir. Ia bisa dimulai sebagai kritik, lalu bekerja sebagai promosi. Publik merasa sedang menertawakan kekuasaan. Walakin setiap tawa, komentar, remix, dan unggahan ulang memperpanjang umur citra kekuasaan itu.

Bahlil tidak perlu menciptakan lagu tersebut untuk mendapat keuntungan dari viralitasnya. Ia cukup hadir setelah lagu itu ramai. Ketika ia merespons dengan santai dan ingin bertemu pembuatnya, ia mengubah posisi. Ia tidak lagi semata menjadi objek lelucon. Ia tampil sebagai pejabat yang cukup lentur menghadapi candaan.

Dalam politik citra, kelenturan sering lebih berguna tinimbang pembelaan panjang. Pejabat yang mampu menertawakan dirinya tampak dekat. Kedekatan itu dapat menutup jarak antara publik dan kekuasaan. Di titik ini, satire kehilangan sebagian racunnya.

Algoritma Tidak Membaca Niat

Masalah utama politik sound terletak pada mesin distribusi. Algoritma tidak membaca ironi seperti pembaca esai. Ia tidak peduli apakah lagu itu memuji, mengejek, atau menyindir. Ia membaca angka: durasi tonton, komentar, pemakaian ulang, pembagian, dan pengulangan.

Ellis Jones dalam DIY Music and the Politics of Social Media meneroka bagaimana musik di media sosial makin terikat pada metrik, platform, optimasi, dan kerja pengguna. Platform memperoleh nilai dari aktivitas pengguna di banyak skala, termasuk aktivitas kecil yang tampak biasa (Jones, 2021, hlm. 138-139). Unggahan ringan, komentar pendek, parodi, dan remix ikut menggerakkan ekonomi perhatian.

MBG bekerja dalam logika itu. Orang yang mengejek ikut menyebarkan. Orang yang membantah ikut menaikkan. Orang yang penasaran ikut memperpanjang umur lagu. Algoritma tidak bertanya apakah publik setuju. Ia hanya melihat bahwa publik belum berhenti menonton.

Ole J. Mjøs dalam Music, Social Media and Global Mobility juga mengingatkan bahwa media sosial memberi peluang baru bagi musik untuk bergerak, menjangkau audiens, dan membangun koneksi. Namun ruang itu juga berisi strategi komersial yang memakai data, perhatian, dan aktivitas pengguna sebagai sumber nilai (Mjøs, 2012, hlm. 117-118). Partisipasi tidak otomatis berarti kebebasan. Partisipasi dapat berubah menjadi bahan mentah bagi platform.

Tawa sebagai Komoditas

Jacques Attali, dalam pengantar Music and Marx, menulis bahwa musik kiwari menjadi sumber profit dan arena perebutan kuasa. Ia menunjukkan bagaimana pasar dapat mengubah musik menjadi barang konsumsi serta menjinakkan subversi menjadi tontonan yang aman (Attali, 2002, hlm. ix-xi). Gagasan itu membantu membaca MBG sebagai gejala yang lebih luas.

Yang bergerak dalam MBG bukan hanya lagu. Yang bergerak ialah nama pejabat. Yang dijual bukan hanya irama. Yang diperebutkan ialah perhatian. Yang dibentuk bukan hanya tawa. Yang dibentuk ialah rasa akrab.

Kekuasaan hari ini tidak selalu takut menjadi bahan lelucon. Ia lebih takut dilupakan. Dalam ekonomi atensi, rasa hormat bukan satu-satunya modal. Kedekatan juga bernilai. Bahkan kedekatan yang lahir dari ejekan tetap berguna jika membuat nama tetap hadir dalam percakapan publik.

Di sinilah politik digital menjadi lencun. Ia dapat mengubah kritik menjadi konten. Ia dapat mengubah satire menjadi visibilitas. Ia dapat mengubah tawa menjadi jembatan menuju penerimaan.

Media dan Keramaian

Media menghadapi ujian dalam fenomena seperti MBG. Jika tidak meliput, media tampak jauh dari percakapan publik. Jika meliput tanpa jarak, media hanya memindahkan FYP ke ruang berita. Berita tentang lagu viral, respons pejabat, dan komentar partai memberi status baru kepada sound itu. Ia naik dari candaan menjadi peristiwa politik.

Jurnalisme tidak cukup mencatat keramaian. Media perlu bertanya siapa yang memperoleh manfaat, isu apa yang tenggelam, dan mengapa publik lebih cepat mengingat refrain daripada kebijakan. Bahlil bukan tokoh dalam lagu semata. Ia pejabat publik dan ketua partai. Publik berhak memeriksa kebijakan energi, tambang, investasi, subsidi, dan jejaring politik yang mengitarinya.

Lagu lucu tidak boleh menggantikan pemeriksaan terhadap kekuasaan. Demokrasi boleh tertawa. Akan tetapi tawa tidak boleh menjadi pengganti audit.

Setelah Sound Berganti

Mungkin MBG hanya candaan. Mungkin penciptanya tidak memiliki agenda politik. Mungkin publik hanya bosan dan ingin tertawa. Tidak semua viralitas merupakan propaganda. Humor tetap penting agar politik tidak terasa terlalu angker.

Tetapi efek politik tidak selalu bergantung pada niat pencipta. Candaan bisa bekerja seperti iklan. Satire bisa berubah menjadi promosi. Lagu ringan bisa menciptakan kedekatan emosional. Sesuatu tidak harus dirancang sebagai kampanye agar bekerja seperti kampanye.

“Mas Bahlil Ganteng” mungkin segera diganti sound liyan. Begitulah nasib tren. Namun ia sudah memperlihatkan satu hikmah: kekuasaan kiwari tahu bahwa tawa publik bisa menjadi ruang promosi. Kita boleh tertawa. Setelah tawa selesai, pertanyaan harus kembali. Siapa yang berkuasa? Apa yang ia putuskan? Siapa yang diuntungkan? Mengapa kita begitu mudah menyanyikan nama orang yang seharusnya kita awasi?

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Muhammad Iqbal
Sejarawan UIN Palangka Raya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.