Ekonomi Tak Cukup Sekadar Bertahan

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Anton Hendranata
18/8/2026, 06.05 WIB

Ekonomi global sedang melambat. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhannya turun dari 3,5% pada 2025 menjadi 3,0% pada 2026. Volume perdagangan barang dan jasa global juga diperkirakan melandai dari 5,0% menjadi 3,5%.

Pelemahan terlihat pada sejumlah mitra dagang utama Indonesia. Pertumbuhan Tiongkok turun signifikan dari 5,0% pada triwulan I-2026 menjadi 4,3% pada triwulan II-2026. Ekonomi Amerika Serikat juga melambat dari 2,1% menjadi 1,5%. Singapura melemah dari 6,3% menjadi 5,7%. Sebaliknya, Korea Selatan naik tipis dari 3,6% menjadi 3,7%. Pertumbuhan Malaysia juga meningkat dari 5,4% menjadi 5,8%, sedangkan Vietnam terakselerasi menjadi 8,4%.

Meski tidak terjadi secara merata, perlambatan global membatasi permintaan barang dan jasa. Indonesia tidak dapat terlalu mengandalkan ekspor sebagai penggerak pertumbuhan. Ketika dorongan dari luar melemah, kekuatan ekonomi domestik menjadi semakin penting.

Di tengah tekanan tersebut, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada triwulan II-2026. Angka ini lebih tinggi daripada 5,12% pada periode yang sama tahun lalu, meski melandai dari 5,61% pada triwulan sebelumnya. Ekonomi Indonesia terbukti memiliki daya tahan. Namun, bertahan saja tidak cukup.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama. Komponen yang mencakup 53% PDB ini tumbuh 5,06% dan menyumbang 2,67 poin persentase terhadap total pertumbuhan ekonomi.

Hari besar keagamaan, libur sekolah, dan peningkatan mobilitas ikut mendorong belanja masyarakat. Konsumsi pada kelompok restoran dan hotel tumbuh 6,47%, sedangkan transportasi dan komunikasi tumbuh 5,71%.

Besarnya peran konsumsi memberikan bantalan bagi perekonomian. Namun, angka agregat tidak selalu menggambarkan kemampuan belanja setiap kelompok masyarakat.

Inflasi Juni 2026 sebesar 3,34% memang masih terkendali. Bagi masyarakat, persoalannya bukan hanya angka inflasi, tetapi perubahan harga pangan, biaya sekolah, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Dampaknya paling terasa bagi kelompok berpendapatan rendah karena sebagian besar pengeluaran mereka digunakan untuk kebutuhan pokok.

Karena itu, kekuatan konsumsi perlu diuji dari dampak yang lebih nyata. Apakah omzet UMKM meningkat? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah pendapatan riil rumah tangga ikut menguat?

Konsumsi yang kuat perlu diikuti penambahan kapasitas produksi. Pada triwulan II-2026, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 6,87% dan menyumbang 2,06 poin persentase terhadap pertumbuhan. Sub-komponen investasi kendaraan tumbuh 26,03%, sedangkan peralatan lainnya meningkat 16,18%.

Investasi masih bergerak, tetapi nilainya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kapasitas produksi, lapangan kerja, dan kegiatan usaha domestik.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tetap menjadi penopang utama. Sektor ini menyumbang hampir 19% terhadap PDB dan tumbuh 4,52%. Kontribusinya terhadap pertumbuhan mencapai 0,90 poin persentase, terbesar dari sisi lapangan usaha.

Keberhasilan industrialisasi tidak cukup dinilai dari jumlah pabrik, smelter, atau kenaikan ekspor. Industri besar harus terhubung dengan pemasok lokal, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menyebarkan teknologi kepada pelaku usaha domestik. Tanpa daya rambat tersebut, investasi mungkin besar, tetapi manfaatnya tetap terbatas.

Belanja pemerintah turut menjaga momentum pertumbuhan. Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% dan menyumbang 1,07 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Kenaikan ini ditopang belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13, serta belanja barang dan jasa. Program Makan Bergizi Gratis juga memberikan dorongan.

Dukungan fiskal diperlukan ketika tekanan global meningkat. Namun, belanja pemerintah harus menciptakan dampak yang lebih panjang melalui peningkatan kualitas manusia, produktivitas, dan lapangan kerja. 

Kualitas pertumbuhan juga harus dilihat dari penyebarannya. Ketahanan ekonomi nasional belum diikuti pemerataan antardaerah. Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 6,10%, Jawa 5,65%, dan Sulawesi 5,53% pada triwulan II-2026. Sementara itu, Kalimantan tumbuh 4,10% dan Maluku-Papua hanya 1,36%.

Struktur ekonomi masih terkonsentrasi di Jawa, yang menyumbang 57% terhadap PDB. Agar pusat pertumbuhan lebih tersebar, konektivitas dan kualitas tenaga kerja perlu diperbaiki. Ekosistem industri serta akses pembiayaan di daerah juga harus diperluas.

Untuk mengubah ketahanan menjadi kekuatan jangka panjang, ada lima prioritas yang perlu dijalankan. Pertama, daya beli harus dijaga melalui stabilitas harga pangan. Produktivitas pertanian perlu ditingkatkan, distribusi dibuat lebih efisien, dan cadangan pangan diperkuat. Bantuan sosial tetap diperlukan bagi kelompok rentan, tetapi harus semakin tepat sasaran.

Kedua, momentum investasi perlu dilindungi melalui kepastian regulasi dan percepatan proyek produktif. Investasi harus memperbesar kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat pemasok lokal.

Ketiga, ekspor manufaktur perlu ditingkatkan dan pasarnya diperluas. Diversifikasi pasar akan mengurangi ketergantungan pada beberapa negara. Langkah ini perlu berjalan bersama hilirisasi yang melibatkan tenaga kerja dan pemasok domestik serta memastikan nilai tambah tinggal di dalam negeri.

Keempat, kredibilitas fiskal harus tetap dijaga. Belanja pemerintah perlu diarahkan pada program yang meningkatkan kualitas manusia dan produktivitas. Koordinasi dengan Bank Indonesia juga penting untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan.

Kelima, pembiayaan perlu lebih banyak mengalir ke sektor produktif. Kredit harus mendorong UMKM, memperkuat industri domestik, dan menciptakan pekerjaan formal. Akses pembiayaan di daerah juga perlu diperluas agar pertumbuhan tidak terus terkonsentrasi di pusat ekonomi lama.

Pertumbuhan 5,29% adalah kabar baik dan patut diapresiasi, tetapi sekaligus pengingat. Konsumsi dapat kehilangan momentum, ruang fiskal dan moneter memiliki batas, dan harga komoditas dapat berubah arah. 

Ketahanan hari ini harus menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi ekonomi sebelum tekanan berikutnya datang. Ketahanan adalah modal, bukan tujuan akhir. Tugas Indonesia adalah mengubahnya menjadi kapasitas produksi yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, dan sumber pertumbuhan yang lebih merata.

Di situlah pertumbuhan memperoleh maknanya. Bukan hanya ketika angka PDB terlihat kuat, tetapi ketika pendapatan riil meningkat, lapangan kerja meluas, UMKM naik kelas, dan semakin banyak keluarga merasa yakin menatap masa depan. Ekonomi Indonesia tidak cukup hanya bertahan, namun mampu membuat masyarakat ikut bertumbuh dan makin sejahtera.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Anton Hendranata
Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk & CEO BRI Research Institute

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.