Tantangan Berat Atasi Gelombang Pengangguran Akibat Corona

Katadata/123rf
Ilustrasi buruh menghadapi dampak buruk pandemi corona.
Penulis: Pingit Aria
20/4/2020, 06.00 WIB

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja alias PHK di Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun menyoroti makin banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena mewabahnya penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini.

“Pekerja yang dirumahkan, terutama dari bulan April, terekam 1,24 juta dari pekerja di sektor formal,” kata Sri Mulyani dalam video teleconference di Jakarta, Jumat (17/4/2020).

Ia mengungkapkan tanda gelombang PHK karyawan sudah terjadi di Tanah Air. Hal itu terlihat dari pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) 21 atas Jaminan Hari Tua atau pensiun yang naik hingga 10,12 % pada Maret 2020 dibandingkan Maret 2019.

Angka itu adalah pertumbuhan tertinggi yang terjadi selama triwulan pertama. “Mengindikasikan penurunan jumlah tenaga kerja. Pertumbuhan ini bukan berarti baik, karena diasosiasikan dengan PHK,” ujarnya.

Lalu bagaimana nasib pekerja informal? Jumlahnya lebih sulit dipastikan. Namun, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini memperkirakan sekitar 256 ribu pekerja informal terdampak pembatasan sosial akibat virus corona.

(Baca: Pengangguran Bertambah, Pemerintah Antisipasi Lonjakan Kriminalitas)

Sebelumnya, Sri Mulyani sempat memprediksi jumlah pengangguran di Indonesia akan melonjak jika pandemi corona tidak diatasi dengan cepat. “Pengangguran yang selama ini menurun dalam lima tahun terakhir akan mengalami kenaikan. Jika skalanya berat bertambah 2,9 juta orang, dan jika lebih berat bisa 5,2 juta orang,” katanya, Selasa (14/4) lalu.

Menurutnya, jumlah pengangguran yang bertambah itu disebabkan besarnya tekanan yang dialami berbagai sektor usaha. Kondisi ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia. Sebab, gelombang PHK terjadi juga di negara-negara lain yang terdampak Covid-19.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, jumlah pekerja yang harus menganggur naik hingga 10 %. “Di semua negara sudah naik dua digit,” katanya.

JUMLAH PENGANGGURAN DIPREDIKSI BERTAMBAH (ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.)

Proyeksi Sri Mulyani tak jauh berbeda dengan apa yang pernah dinyatakan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Mereka memperkirakan jumlah pengangguran terbuka pada kuartal kedua 2020 akan bertambah 4,25 juta orang.

Angka tersebut merupakan proyeksi yang dibuat CORE berdasarkan skenario ringan dampak pandemi corona. Sementara pada skenario sedang akan terdapat tambahan 6,68 juta orang yang menganggur, sedangkan pada skenario berat sebanyak 9,35 juta orang.

Lembaga tersebut menilai, kenaikan jumlah pengangguran terbukan bukan hanya disebabkan oleh perlambatan atau penurunan ekonomi. “Melonjaknya pengangguran terbuka juga disebabkan oleh perubahan perilaku masyarakat terkait pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial dalam skala kecil maupun besar,” tulis CORE dalam keterangan resminya dikutip Kamis lalu.

(Baca: CORE Prediksi Pengangguran Bertambah 4,25 Juta Orang akibat Corona)

Sedangkan Bhima Yudhistira memproyeksi setidaknya 2,5 juta orang mengalami PHK pada tahun ini. “Itu belum termasuk yang dirumahkan tetapi masih berstatus karyawan,” ujar peneliti dari Institute For Development of Economics and Finance ini kepada Katadata.co.id.

Di seluruh dunia, Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan sebanyak 1,25 miliar orang bekerja di sektor yang terdampak parah oleh corona dan dibayangi risiko PHK. Sektor-sektor tersebut termasuk akomodasi dan jasa makanan; perdagangan retail dan besar, termasuk jasa reparasi kendaraan; manufaktur; dan properti atau real estate.

Berikut adalah data prediksi kenaikan angka pengangguran akibat pandemi corona di Asia:

Bila tak diantisipasi, ledakan angka pengangguran ini akan meningkatkan angka kemiskinan. Sri Mulyani memperkirakan, virus corona bisa menyebabkan peningkatan kemiskinan hingga 1,1 juta orang. Pada skenario terburuk, tambahan kemiskinan bahkan bisa mencapai 3,78 juta orang.

Pada September 2019, BPS mencatat penduduk miskin sebanyak 24,79 juta orang, atau 9,22 persen. Angka kemiskinan pertama kali mencapai single digit pada Mei Maret 2018, yaitu 9,82 % atau 25,95 juta orang.

wabah PHK (Katadata)

Lalu, bagaimana dengan kesiapan pemerintah dalam menghadapi gelombang PHK yang tengah melanda?

Halaman selanjutnya: Jurus Kartu Prakerja Atasi Pengangguran

Halaman:
Reporter: Agatha Olivia Victoria