Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Oktober akan menjadi puncak kekeringan ketiga pada 2023. Ini merupakan dampak fenomena iklim El Nino yang menyebabkan berkurangnya curah hujan dalam waktu yang lama di wilayah bagian selatan garis khatulistiwa.  

Kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah menyebabkan terjadinya gagal panen dan krisis air bersih. BMKG mencatat telah terjadi 150 bencana kekeringan di Indonesia sejak Januari hingga 17 Oktober 2023.

Bencana kekeringan ini marak terjadi pada bulan Juli hingga September. Kejadian kekeringan paling banyak terjadi di Jawa Barat sebanyak 50 kejadian. Kemudian diikuti Jawa Tengah dengan 39 kejadian, Jawa Timur (10 kejadian), Sulawesi Selatan (9 kejadian), dan Lampung (7 kejadian). 

Hal yang harus diwaspadai adalah bencana kekeringan ini paling banyak terjadi di provinsi penyokong terbesar produksi beras nasional. Misalnya beberapa daerah di Jawa Barat merupakan provinsi penyokong produksi beras nasional terbesar kedua pada 2022.

“Jawa Barat ini banyak sawah. Kalau mereka terkena dampak El Nino yang cukup parah, maka harus melakukan langkah siaga,” kata Plt Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan seperti dikutip dari CNBC Indonesia pada 1 Oktober 2023.

Jika kekeringan berlanjut dikhawatirkan akan berdampak panjang yang menyebabkan kelangkaan produksi pangan dan menyebabkan bencana kelaparan. 

Sebelumnya pada Juni 2023, krisis kelaparan terjadi di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan kekeringan dan gagal panen. 

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan, bencana kekeringan dan gagal panen di Kabupaten Puncak ini terjadi akibat fenomena El Nino. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 7.500 warga terdampak kelaparan dan enam di antaranya meninggal dunia.