Pemerintah memangkas kuota produksi perusahaan pertambangan batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Produksi akan turun dari 790 juta ton pada 2025 menjadi 600 juta ton tahun ini. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, kebijakan ini untuk mengurangi suplai berlebihan batu bara dunia dunia dan menjaga cadangan batu bara dalam negeri. Kebijakan ini juga dinilai bakal menjaga harga batu bara dunia yang beberapa waktu terakhir terus menurun.

“Kalau kita produksinya banyak permintaannya sedikit, harganya murah. Kita buat keseimbangan berapa konsumsi, itu yang diproduksi,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kamis, 12 Februari.

Menurut laporan tahunan International Energy Agency (IEA), produksi batu bara dunia diestimasi mencapai 9,1 miliar ton pada 2025. Sedangkan permintaannya hanya 8,8 miliar ton. Artinya, ada kelebihan suplai batu bara global sekitar 300 juta ton. Kelebihan pasokan atau stok batu bara Indonesia mencapai 22 juta ton pada 2025.

Di sisi lain, harga acuan batu bara (HBA) pada periode kedua Februari 2026 yang ditetapkan Kementerian ESDM anjlok. HBA dengan nilai kalori batu bara tertinggi turun 17,2% secara tahunan menjadi US$102,87 per ton.

Kebijakan pemangkasan produksi tahunan batu bara Indonesia berpotensi mengancam pasokan sejumlah negara di Asia. Filipina, Bangladesh, Malaysia, dan Thailand adalah sejumlah negara yang bergantung pada ekspor batu bara Indonesia. Filipina, misalnya,  menggantungkan 98% kebutuhan impor batu bara termalnya dari Indonesia.

Indonesia memegang posisi krusial sebagai salah satu pemasok utama batu bara dunia. Produksi tahunannya terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India.

Ekspor batu bara Indonesia tahun lalu mencapai 514 juta ton atau setara 43% dari total perdagangan dunia, menjadikannya eksportir utama batu bara dunia, bersaing dengan Australia. Per Desember 2024, Indonesia memiliki cadangan batu bara mencapai 31,95 miliar ton, terbesar ke-7 dunia setelah AS, Rusia, Cina, Australia, India, dan Jerman.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antoineta Amosella