Perang Iran dengan AS dan Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz berdampak pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Awal minggu ini, harga minyak bahkan sempat menyentuh US$110 per barel.
Pasalnya, Hormuz adalah salah satu selat terpenting lalu lintas pasokan minyak dunia. Perekonomian global terancam tertekan, tidak terkecuali Indonesia.
Harga minyak mentah Brent pada 12 Maret tercatat berada di kisaran US$ 96 per barel. Meski sudah menurun dibandingkan awal minggu ini, harga ini masih jauh lebih tinggi dari asumsi harga minyak mentah dalam UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang setara US$70 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN melebihi 3%. Menurut Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono, kenaikan US$1 per barel saja bakal menambah beban belanja APBN hingga Rp10,3 triliun sekaligus menambah penerimaan negara hingga Rp3,6 triliun. Artinya, defisit yang ditanggung pemerintah atas kenaikan harga minyak US$1 per barel mencapai Rp6,7 triliun.
“Harga minyak ini sensitifitasnya sangat tinggi sehingga pemerintah akan terus memonitor ini. Kalau rantai pasok global terganggu, ujung-ujungnya akan inflasi bahan baku industri, tidak hanya minyak,” kata Susi dalam forum diskusi UOB Media Editor Circle, Senin, 2 Maret.
Per Februari 2026, defisit APBN sudah mencapai Rp135,7 triliun dan sudah mencakup 19,6% dari target defisit sepanjang 2026.
Tidak hanya harga minyak, nilai tukar rupiah pada awal tahun ini juga meleset dari asumsi makro APBN 2026. Nilai tukar rupiah terus mendekati Rp17.000 per US$, yang mana lebih tinggi dibandingkan asumsi Rp16.500 per US$ pada UU APBN 2026. Per 12 Maret, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.867 per US$.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkalkulasi, defisit APBN tahun ini dapat menyentuh 3,6% sampai 3,7% jika harga minyak sepanjang tahun ini bertahan di US$ 92 per barel.
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga merencanakan menambah porsi anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk meredam agar harga BBM subsidi tidak membengkak di tengah gejolak harga minyak dunia.