Badan Energi Internasional (IEA) menyebut lebih dari 40 aset energi di sembilan negara Timur Tengah mengalami kerusakan parah atau sangat parah, imbas konflik yang kian memanas. Fasilitas energi ini termasuk ladang gas, kilang, dan jaringan perpipaan.

“Akan membutuhkan waktu bagi ladang minyak, kilang, dan pipa untuk kembali beroperasi,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, dikutip dari Antara, Minggu, 22 Maret.

Kerusakan aset-aset ini berdampak pada terhambatnya rantai pasok energi global, terutama negara-negara Asia yang banyak bergantung pada pasokan energi Timur Tengah.

BUMN minyak dan gas (migas) Arab Saudi, Aramco mengumumkan pembatasan ekspornya ke Asia imbas salah satu kilang utamanya yaitu Ras Tanura diserang. Pembatasan dilakukan dua bulan berturut-turut pada April 2026. Aramco adalah produsen dan eksportir terbesar minyak dunia.

Sementara, QatarEnergy mengumumkan keadaan kahar atau force majeure sejumlah kontrak jangka panjang ekspor gas alam cair (LNG) minggu lalu. Hal ini imbas kerusakan fasilitas kilang gas utamanya yaitu Ras Laffan dan Mesaieed.

Perbaikan diperkirakan akan menghentikan produksi kurang lebih 12,8 juta ton LNG per tahun selama setidaknya tiga sampai lima tahun. Hal ini mengancam krisis gas dunia, sebab QatarEnergy memasok setidaknya 20% kebutuhan LNG global.

Menurut Fatih Birol, dampak krisis minyak dan gas kali ini menyerupai gabungan dua krisis minyak besar pada 1970-an dan krisis gas alam pada 2022.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Bintan Insani