Teladan Kerja sama Nabi Musa dan Nabi Harun sebagai Refleksi Jelang Ramadan
Menjelang Ramadan, umat Islam diajak untuk berefleksi terkait hubungan dengan Tuhan maupun sesama. Rujukan yang kerap diangkat salah satunya kisah para nabi, termasuk perjalanan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS.
Relasi dua nabi ini menunjukkan pentingnya kerja sama dalam menghadapi tantangan dakwah. Sekilas latar belakang, Nabi Musa dan Nabi Harun berasal dari keluarga Bani Israil yang hidup di bawah penindasan Firaun di Mesir.
Pada masa itu, Firaun dikenal sebagai penguasa absolut yang memaksa rakyatnya tunduk tanpa perlawanan, bahkan mengklaim diri sebagai tuhan.
Salah satu kebijakan paling kejam yang diterapkan adalah pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil, menyusul ramalan bahwa kekuasaannya akan runtuh oleh seorang anak dari kaum tersebut.
Nabi Musa selamat dari kebijakan itu setelah dihanyutkan ke Sungai Nil dan diasuh di lingkungan istana Firaun. Sementara Nabi Harun lahir pada periode berbeda, ketika kebijakan pembunuhan bayi dilakukan secara selang-seling.
Meskipun detail awal kehidupan Nabi Harun tidak banyak dicatat, sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa ia tumbuh sebagai pribadi yang dikenal fasih berbicara dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Ketika Nabi Musa menerima perintah Allah SWT untuk berdakwah kepada Firaun dan kaumnya, ia menyadari keterbatasannya dalam berbicara di depan publik. Di dalam Al-Qur’an, Musa memohon agar Allah mengutus saudaranya, Harun, sebagai pendamping dan mitra dakwah. Permohonan tersebut dikabulkan, dan Harun ditetapkan sebagai nabi yang mendampingi Musa dalam misi besar menghadapi kekuasaan Firaun.
Kerja sama keduanya menjadi elemen penting dalam perjalanan dakwah tersebut. Nabi Musa memimpin misi secara teologis dan strategis, sementara Nabi Harun berperan sebagai juru bicara yang menyampaikan pesan dengan bahasa yang lebih mudah diterima. Kisah ini sering dipahami sebagai teladan tentang pembagian peran berdasarkan kapasitas dan keahlian.
Setelah Firaun tenggelam di Laut Merah, tantangan dakwah belum berakhir. Kaum Bani Israil masih membawa kebiasaan lama, termasuk kecenderungan menyembah berhala. Ketika Nabi Musa pergi ke Gunung Sinai untuk menerima wahyu, Nabi Harun memimpin umat dalam situasi yang penuh tekanan.
Pada masa itu, muncul peristiwa penyembahan patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri, meski Harun telah mengingatkan dan menegur kaumnya.
Di dalam kondisi terancam dan minoritas, Nabi Harun memilih pendekatan menahan konflik terbuka demi mencegah perpecahan yang lebih besar. Peristiwa ini menunjukkan kompleksitas kepemimpinan dalam situasi krisis, sekaligus menggambarkan perbedaan peran antara Musa dan Harun yang tetap saling melengkapi.
Menjelang Ramadan tahun ini, kisah Nabi Musa dan Nabi Harun dapat kita maknai sebagai pengingat bahwa perubahan, baik spiritual maupun sosial, tak selalu bisa dijalani sendiri.
Kerja sama, pengakuan terhadap keterbatasan diri, serta kepercayaan kepada orang lain menjadi bagian dari proses menata ulang kehidupan.
Nilai-nilai tersebut relevan dalam konteks persiapan Ramadan, momentum umat Islam diajak memperbaiki ibadah sekaligus memperkuat relasi dan tanggung jawab sosial.