Ramadan, di antara Spiritualitas dan Konsumerisme

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Penulis: Dini Hariyanti
20/2/2026, 14.49 WIB

Ramadan kerap dipahami sebagai bulan refleksi, pengendalian diri, serta penguatan nilai spiritual. Di saat yang sama, momentum ini juga identik dengan lonjakan konsumsi, promosi besar-besaran, dan peningkatan belanja rumah tangga. 

Survei YouGov menunjukkan, ketika ditanya tentang makna Ramadan, responden lebih banyak mengasosiasikannya dengan faith dan family dibandingkan dengan aktivitas belanja.

Artinya, pada level persepsi dan nilai, Ramadan tetap diletakkan dalam kerangka spiritual dan sosial. Bulan ini dipahami sebagai ruang memperbaiki relasi dengan Tuhan sekaligus mempererat hubungan keluarga.

Namun, jika dilihat dari sisi makroekonomi, data menunjukkan dinamika yang berbeda. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 sebesar 5,11 persen, dengan konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama dari sisi pengeluaran.

Dan secara historis, periode Ramadan hingga Idulfitri turut menopang perputaran konsumsi tersebut, terutama pada kelompok makanan-minuman, transportasi, serta ritel.

BPS juga secara konsisten mencatat pola inflasi musiman menjelang Ramadan dan Lebaran, terutama pada komoditas pangan. Kenaikan permintaan bahan pokok, peningkatan mobilitas masyarakat, hingga aktivitas mudik mendorong pengeluaran rumah tangga meningkat. Artinya, secara perilaku ekonomi, Ramadan tetap menjadi musim belanja.

Di sinilah muncul jarak di antara persepsi normatif dan praktik ekonomi. Secara nilai, masyarakat menempatkan Ramadan sebagai bulan pengendalian diri. Namun secara agregat, pengeluaran justru meningkat. 

Fenomena ini memperlihatkan kompleksitas sosial Ramadan di Indonesia. Konsumsi yang meningkat selama Ramadan tidak sepenuhnya identik dengan hedonisme. 

Paslanya, sebagian besar justru berkaitan dengan tradisi sosial, misalnya berbuka puasa bersama, berbagi takjil, memberi parsel, hingga persiapan mudik. Aktivitas ekonomi menjadi bagian dari ritual sosial yang menyertai bulan suci.

Di dalam konteks ini, refleksi spiritual menjadi relevan untuk membaca kembali makna konsumsi itu sendiri. Mengutip publikasi di situs Islam.nu.or.id berjudul “Kultum Ramadan: Agar Puasa Tak Hanya Menjadi Rutinitas Tahunan”, Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus sekaligus Pengurus LBM NU Purworejo Muhamad Hanif Rahman menegaskan bahwa puasa tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus dihayati secara menyeluruh dengan menjaga lahir dan batin.

Ia merujuk kepada pandangan al-Imam al-Ghazali dalam Mauizhatul Mu’minin min Ihya’ ‘Ulumid Din yang menyebutkan enam tuntunan agar puasa benar-benar bernilai dan membekas.

Pertama, menundukkan pandangan dari hal-hal tercela dan yang melalaikan dari mengingat Allah. Kedua, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, dan perdebatan. Ketiga, menjaga pendengaran dari hal-hal yang diharamkan.

Keempat, menahan anggota tubuh dari perbuatan dosa serta menghindari yang syubhat saat berbuka. Kelima, tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan halal saat berbuka. Tujuan puasa adalah melemahkan hawa nafsu, bukan mengganti kekurangan siang hari dengan berlebihan di malam hari. Keenam, setelah berbuka, tetap berada dalam sikap harap dan cemas apakah ibadahnya diterima atau tidak.

Poin kelima menjadi refleksi penting dalam konteks data konsumsi Ramadan. Al-Ghazali mengingatkan agar berbuka tidak menjadi momentum pelampiasan. Dalam bahasa ekonomi modern, ini dapat dibaca sebagai pengendalian dorongan konsumsi yang berlebihan.

Dengan demikian, Ramadan menghadirkan dua realitas yang berjalan paralel, yakni reflektif secara spiritual tetapi tetap aktif secara ekonomi. Tantangannya bukan pada ada atau tidaknya konsumsi, melainkan pada bagaimana konsumsi itu dimaknai dan dikendalikan.

Di tengah kemudahan transaksi digital dan derasnya promosi, Ramadan justru menawarkan kesempatan untuk menata ulang orientasi. Data menunjukkan konsumsi meningkat, tetapi ajaran spiritual menekankan pengendalian diri. Di antara keduanya, Ramadan menjadi ruang negosiasi antara nilai dan praktik, di antara dorongan belanja dan kesadaran batin.

Pada titik inilah, spiritualitas dan konsumerisme tidak selalu harus dipertentangkan. Keduanya adalah bagian dari dinamika masyarakat modern. Yang menentukan arah akhirnya bukan pada tren datanya, melainkan pada kesadaran individu dalam menjalaninya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.