Kenapa Pagi-Siang Terasa Lebih Panas Beberapa Hari ini? Ini Alasan BMKG

unsplash.com
fenomena siang terasa lebih panas versi BMKG
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
12/5/2026, 09.30 WIB

Fenomena cuaca panas yang terasa sejak pagi hingga malam hari dalam beberapa hari terakhir memicu keluhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Suhu udara terasa lebih gerah dibandingkan biasanya, terutama pada siang hari, bahkan di sejumlah daerah panas masih terasa hingga malam. Kondisi ini terjadi di tengah masa peralihan musim hujan menuju musim kemarau atau pancaroba.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi siang terasa lebih panas tersebut bukan gelombang panas atau heatwave seperti yang terjadi di negara subtropis. BMKG menjelaskan fenomena ini merupakan dampak kombinasi beberapa faktor atmosfer, mulai dari posisi semu matahari, minimnya tutupan awan, hingga pengaruh angin timuran dari Australia.

BMKG mencatat anomali suhu positif di sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang April hingga awal Mei 2026. Di beberapa wilayah Jabodetabek, suhu bahkan mencapai 35–36 derajat Celcius pada siang hari.

Kenapa Pagi hingga Siang Terasa Lebih Panas?

BMKG menjelaskan fenomena siang terasa lebih panas terjadi karena Indonesia sedang memasuki periode transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Pada masa pancaroba, cuaca cenderung berubah cepat dalam satu hari. Pagi hingga siang biasanya sangat terik, sementara sore hingga malam berpotensi turun hujan akibat pembentukan awan konvektif.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab mengatakan pemanasan maksimal pada pagi hingga siang hari memicu proses konveksi atau pengangkatan udara panas ke atmosfer pada sore hari. Proses ini kemudian membentuk awan hujan dan menyebabkan hujan lokal menjelang malam.

Fenomena siang terasa lebih panas juga dipengaruhi kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan tropis. Perbedaan karakter wilayah seperti pegunungan, dataran rendah, kawasan pesisir, dan kepadatan perkotaan membuat suhu udara di setiap daerah bisa berbeda-beda.

Faktor Penyebab Cuaca Lebih Panas Menurut BMKG

fenomena siang terasa lebih panas versi BMKG (unsplash.com)

 

BMKG menyebut ada sejumlah faktor utama yang menyebabkan suhu udara di Indonesia terasa lebih panas dalam beberapa pekan terakhir. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi kondisi atmosfer nasional.

1. Posisi Semu Matahari di Dekat Khatulistiwa

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan posisi semu matahari pada April hingga Mei 2026 berada di sekitar lintang khatulistiwa bagian utara. Posisi ini membuat intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia menjadi lebih maksimal.

Paparan radiasi matahari yang lebih kuat menyebabkan suhu udara meningkat lebih cepat sejak pagi hari. Akibatnya, masyarakat merasakan siang terasa lebih panas dibanding bulan-bulan sebelumnya.

2. Langit Cerah dan Minim Tutupan Awan

Selain posisi matahari, kondisi langit yang cenderung cerah juga menjadi penyebab utama meningkatnya suhu udara. Minimnya tutupan awan membuat sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.

BMKG menjelaskan awan sebenarnya berfungsi mengurangi intensitas radiasi matahari. Ketika jumlah awan berkurang, panas matahari terserap lebih banyak oleh permukaan bumi sehingga udara menjadi lebih terik.

3. Pengaruh Angin Timuran Australia

Faktor lain yang memicu cuaca panas adalah dominasi angin timuran yang berasal dari Australia. Angin ini bersifat lebih kering sehingga menghambat pembentukan awan hujan, terutama di wilayah selatan Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan langit lebih cerah dan penyinaran matahari berlangsung lebih intensif. Meski demikian, kelembapan udara di Indonesia masih tergolong tinggi sehingga udara terasa semakin gerah.

4. Masa Peralihan Musim atau Pancaroba

BMKG menegaskan fenomena siang terasa lebih panas merupakan ciri umum masa pancaroba. Pada periode ini, curah hujan mulai menurun sementara durasi penyinaran matahari meningkat.

Kondisi tersebut membuat suhu udara pada siang hari lebih tinggi dibanding musim hujan. Namun, hujan lokal masih dapat terjadi akibat proses konveksi yang dipicu pemanasan berlebih sejak pagi.

Data BMKG soal Kenaikan Suhu di Indonesia

BMKG mencatat hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami anomali suhu positif selama April 2026. Artinya, suhu udara lebih tinggi dibanding rata-rata normal periode 1991–2020.

Berdasarkan data dari 116 stasiun pengamatan BMKG, anomali suhu tertinggi terjadi di Serang, Banten yang mencapai +1,4 derajat Celsius. Setelah itu disusul Jakarta Utara sebesar +1,27 derajat Celsius, Kepulauan Sula sebesar +1,24 derajat Celsius, Jakarta Timur sebesar +1,21 derajat Celsius, dan Minahasa Utara sebesar +1,16 derajat Celsius.

BMKG juga mencatat suhu maksimum di wilayah Jabodetabek mencapai 35–36 derajat Celsius pada siang hari. Meski demikian, BMKG menegaskan suhu tersebut masih berada dalam kategori normal untuk wilayah tropis dan belum masuk kategori gelombang panas ekstrem.

Pengaruh El Nino terhadap Musim Kemarau 2026

Selain faktor lokal, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih panjang dan lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino. Analisis terbaru BMKG menunjukkan kondisi atmosfer global mulai bergerak menuju El Nino lemah hingga moderat.

BMKG mendefinisikan musim kemarau berdasarkan curah hujan yang kurang dari 150 milimeter per bulan. Dengan pengaruh El Nino, curah hujan diperkirakan menurun lebih signifikan dibanding rata-rata normal.

Fenomena ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Selain itu, suhu udara saat siang hari juga diprediksi akan tetap tinggi selama musim kemarau berlangsung.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026, meski waktunya berbeda di setiap daerah. Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Agustus.

BMKG juga memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dibanding rata-rata akibat pengaruh El Nino.

Himbauan BMKG Terkait Risiko Cuaca Panas

BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh selama fenomena cuaca panas berlangsung. Konsumsi air putih yang cukup penting dilakukan untuk mencegah dehidrasi.

Aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB ketika suhu udara berada pada titik tertinggi. Penggunaan pakaian berbahan ringan dan pelindung kepala juga disarankan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.

Selain itu, masyarakat diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca BMKG karena kondisi atmosfer saat pancaroba dapat berubah dengan cepat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.