AS Umumkan Operasi Epic Fury Berakhir: Benarkah Perang Telah Usai?

Departement of War
Operasi Epic Fury
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
12/5/2026, 15.58 WIB

Amerika Serikat (AS) mengumumkan Operasi Epic Fury terhadap Iran telah berakhir setelah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Pengumuman itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Gedung Putih pada 5 Mei 2026 kemarin.

Pemerintah Presiden Donald Trump menyebut operasi militer tersebut dihentikan karena target strategis Washington dinilai telah tercapai. Meski demikian, ketegangan di Timur Tengah belum benar-benar mereda.

Militer AS masih menjalankan operasi bersenjata di Selat Hormuz melalui misi baru bernama Project Freedom. Di saat yang sama, Trump dikabarkan mempertimbangkan kembali opsi serangan terhadap Iran setelah menolak proposal terbaru Teheran terkait negosiasi nuklir dan gencatan senjata.

Situasi semakin rumit setelah Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan diam-diam melancarkan serangan balasan terhadap Iran di tengah perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Teheran kemarin.

Apa Itu Operasi Epic Fury?

Pidato Donald Trump (Youtube The White House)

 

Operasi Epic Fury merupakan operasi militer AS terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026. Konflik pecah ketika Israel dan AS melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target strategis Iran pada 28 Februari 2026.

Pemerintah AS menyebut operasi tersebut bertujuan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah, melindungi kepentingan keamanan Washington, serta mengurangi ancaman terhadap jalur perdagangan internasional di kawasan Teluk.

Pemerintahan Trump kemudian melaporkan operasi itu kepada Kongres AS sesuai ketentuan War Powers Resolution, aturan yang membatasi kewenangan presiden menjalankan operasi militer tanpa persetujuan Kongres selama 60 hari.

Selama operasi berlangsung, AS menyerang sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran. Washington juga menempatkan isu program nuklir Iran sebagai salah satu fokus utama operasi tersebut.

Namun, hingga kini Iran disebut belum menyerahkan lebih dari 900 pon atau sekitar 408 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi. Persoalan tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan utama antara Washington dan Teheran.

Kenapa AS Menyatakan Operasi Epic Fury Berakhir?

Pemerintah AS menyatakan Operasi Epic Fury berakhir karena target strategis operasi dianggap telah tercapai. Rubio mengatakan Washington tidak ingin memperluas konflik dan lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Selain faktor keamanan, keputusan tersebut juga berkaitan dengan tekanan politik domestik di AS. Pemerintahan Trump menghadapi kritik dari anggota Kongres terkait batas waktu operasi militer berdasarkan War Powers Resolution.

Aturan itu mengharuskan presiden menghentikan operasi tempur dalam waktu 60 hari jika tidak memperoleh persetujuan resmi dari Kongres.

Di sisi lain, pemerintah AS juga ingin mengurangi dampak ekonomi akibat konflik di kawasan Teluk. Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia sehingga perang berkepanjangan berisiko mengganggu pasokan energi internasional. Meski begitu, berakhirnya Operasi Epic Fury tidak berarti seluruh aktivitas militer AS dihentikan.

Update: AS Masih Jalankan Operasi Militer di Selat Hormuz

Kapal Tanker di Selat Hormuz (Reuters)

 

Setelah menghentikan Operasi Epic Fury pada 5 Mei 2026, pemerintah AS mengalihkan fokus operasi militernya ke misi baru bernama Project Freedom.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjelaskan pada 9 Mei 2026 bahwa operasi tersebut bertujuan menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang masih berada dalam situasi rawan konflik.

Washington menyebut operasi ini bersifat defensif dan tidak ditujukan untuk perang terbuka. Menurut Rubio, militer AS hanya akan bertindak jika kapal perang atau kapal niaga mereka mendapat ancaman serangan.

Pada malam 7 Mei 2026, Komando Pusat AS atau CENTCOM mengumumkan telah menyerang fasilitas militer Iran setelah muncul dugaan ancaman terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz.

Rubio kemudian menegaskan pada 9 Mei 2026 bahwa serangan terbaru tersebut bukan bagian dari Operasi Epic Fury.

“Itu berbeda dan terpisah dari Operasi Epic Fury,” kata Rubio.

Menurut pemerintah AS, hingga awal Mei 2026 sekitar 23 ribu orang dari 87 negara masih terjebak di kapal-kapal di kawasan Teluk akibat konflik yang belum sepenuhnya mereda. Selain itu, sedikitnya 10 pelaut sipil dilaporkan tewas di tengah ketegangan di jalur perdagangan energi dunia tersebut.

Sementara itu, Iran menuding AS telah melanggar gencatan senjata karena masih melakukan serangan di wilayah mereka setelah penghentian resmi Operasi Epic Fury.

Update: Trump Pertimbangkan Serangan Baru ke Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Instagram/White House)

 

Meski sebelumnya optimistis terhadap peluang perdamaian, Trump kini dikabarkan mempertimbangkan kembali opsi serangan militer terhadap Iran. Langkah tersebut muncul setelah Trump menolak proposal terbaru dari Teheran yang disampaikan melalui mediator Pakistan. Proposal itu bahkan disebut Trump sebagai proposal “bodoh”.

Sejumlah pejabat AS menyebut Trump menggelar rapat tingkat tinggi dengan tim keamanan nasional di Gedung Putih pada 11 Mei 2026. Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Kepala CIA John Ratcliffe, dan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine.

Dalam rapat itu, pemerintahan Trump membahas kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran untuk meningkatkan tekanan terkait program nuklir Teheran.

Sejumlah pejabat AS menyebut Trump mempertimbangkan “beberapa bentuk tindakan militer” dan kemungkinan meningkatkan intensitas serangan jika negosiasi kembali gagal.

Trump juga menilai kondisi gencatan senjata saat ini berada dalam “situasi kritis”.

Update: UEA Disebut Diam-Diam Serang Iran

Di tengah ketegangan yang belum mereda, UEA dilaporkan diam-diam melancarkan serangkaian serangan balasan terhadap Iran.

Laporan Wall Street Journal menyebut salah satu target serangan tersebut adalah kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. Serangan itu terjadi pada awal April 2026 ketika Trump sedang bersiap mengumumkan gencatan senjata dengan Teheran.

Serangan terhadap kilang minyak tersebut memicu kebakaran besar dan membuat fasilitas berhenti beroperasi.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke wilayah UEA dan Kuwait.

Menurut laporan tersebut, Iran telah melancarkan lebih dari 2.800 serangan rudal dan drone terhadap target-target di UEA sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. Jumlah itu disebut lebih besar dibanding serangan Iran terhadap negara-negara Teluk lainnya yang menampung aset militer AS.

Serangan-serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan terhadap ekonomi UEA, termasuk pemutusan hubungan kerja dan cuti paksa di sejumlah sektor.

Sejumlah pejabat Abu Dhabi yang tidak disebutkan namanya mengatakan serangan Iran telah memicu perubahan besar dalam pandangan strategis UEA terhadap Teheran.

UEA kini disebut memandang Iran sebagai ancaman terhadap model ekonomi dan stabilitas nasional mereka yang selama ini bergantung pada investasi asing, tenaga kerja ekspatriat, dan citra keamanan kawasan.

Laporan Wall Street Journal juga menyebut AS diam-diam menyambut keterlibatan UEA dalam perang melawan Iran.

Meski demikian, Kementerian Luar Negeri UEA belum memberikan komentar resmi terkait laporan serangan tersebut. Pemerintah Abu Dhabi hanya menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk merespons tindakan permusuhan yang mengancam keamanan negara.

Analis Timur Tengah Dina Esfandiary mengatakan keterlibatan langsung UEA menjadi perkembangan penting dalam konflik kawasan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan untuk pertama kalinya negara Teluk terlibat langsung menyerang Iran dan situasi itu berpotensi memperlebar ketegangan antara Teheran dan negara-negara Arab Teluk lainnya yang sedang mencoba memediasi perdamaian.

Apakah Konflik Timur Tengah Akan Berakhir?

Meski Operasi Epic Fury telah dinyatakan selesai, situasi Timur Tengah masih jauh dari stabil. Operasi militer AS di Selat Hormuz, ancaman serangan baru dari Trump, dan fakta keterlibatan langsung UEA menunjukkan konflik belum benar-benar berakhir.

Ketegangan tersebut juga memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi hanya melibatkan AS dan Iran, tetapi telah berkembang menjadi persaingan geopolitik yang melibatkan negara-negara Teluk.

Jika negosiasi terkait program nuklir Iran kembali gagal, risiko eskalasi perang terbuka di Timur Tengah masih sangat mungkin terjadi meski Operasi Epic Fury secara resmi telah dihentikan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.