Bank Dunia Dorong Pembangunan Ramah Lingkungan

Masyarakat miskinlah yang paling terkena dampak kerusakan lingkungan Ini seharusnya yang menjadi pertimbangan para pembuat kebijakan dan lembaga multilateral seperti Bank Dunia
Aria W. Yudhistira
9 Juni 2015, 15:16
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Bank Dunia menilai pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan lebih penting ketimbang mengejar besaran pertumbuhan ekonomi. Selama ini, masyarakat miskin yang paling terkena dampak pembangunan yang mengabaikan kondisi lingkungan.

Sri Mulyani Indrawati, Managing Director and Chief Operating Officer Bank Dunia, mencontohkan Indonesia dan Cina dinilai sebagai negara yang belum menerapkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan bagi lingkungan.

Mantan Menteri Keuangan ini mencontohkan Cina, yang kehilangan 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) karena pertumbuhan yang tidak ramah lingkungan. Begitu juga, ekonomi Indonesia tumbuh hingga dua kali lipat selama satu dekade terakhir yang belum bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat. Meskipun, angka kemiskinan turun menjadi 1,13 persen pada 2014.

Menurut dia, masyarakat miskinlah yang paling terkena dampak kerusakan lingkungan. Belum lagi, bila ada bencana yang ditimbulkan karena pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Hal ini,  merupakan pembelajaran paling penting bagi ahli pembangunan, pembuat kebijakan, dan lembaga seperti Bank Dunia.

Advertisement

?Jika ingin berhasil dalam mengentaskan kemiskinan, tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi. Kecuali, pertumbuhan tersebut bersifat inklusif dan berkelanjutan bagi lingkungan,? kata dia dalam acara ?Indonesia Green Infrastructure Summit 2015? di Jakarta, Selasa (9/6).

Di kawasan Asia Timur saja, dia memperkirakan butuh US$ 8 triliun untuk investasi infrastruktur yang ramah lingkungan hingga 2020. Begitu juga, dia mengakui bahwa Indonesia juga butuh dana yang besar untuk infrastruktur ?hijau?. Dia mengatakan, Bank Dunia siap bekerja sama untuk membangun infrastruktur ini.

Dia menyoroti tiga hal yang penting bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan. Antara lain, energi yang diproduksi harus bersih dan efisien. Pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawa. Serta, tata kelola pemerintah yang baik dan kepemimpinan yang tidak takut akan pembaruan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui selama ini pemerintah mengabaikan lingkungan dalam melakukan pembangunan. Persoalannya, butuh biaya yang sangat besar untuk mengerjakan pembangunan yang ramah lingkungan. Dia mencontohkan, pemerintah lebih memilih membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara lantaran lebih murah.

?Kalau pakai pembangkit tenaga matahari biayanya bisa dua kali lipatnya,? kata Kalla. ?Itu sebabnya proyek 10 ribu MW pakai batubara semua, karena kita butuh kecepatan dan biaya yang tidak terlalu maha.?

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait