Strategi Bertahan Tiga Perusahaan saat Harga Minyak Turun

Salah satu upaya perusahaan menghadapi harga minyak adalah melakukan efisiensi biaya.
Anggita Rezki Amelia
3 Mei 2018, 22:08
Rig Minyak
Katadata

Sejumlah pemimpin perusahaan minyak dan gas bumi (migas) di beberapa negara berbagi strategi dan pengalaman saat menghadapi penurunan harga minyak dunia. Penurunan harga minyak ini terjadi sejak tahun 2014 dan sempat menyentuh level US$ 50 per barel.

Chief Executive Officer (CEO) MedcoEnergi Roberto Lorato mengatakan upaya yang dilakukan adalah efisiensi biaya operasional. Kemudian, mereka mengubah pola pikir karyawannya agar bisa menerima kondisi turunnya harga minyak dan tetap melakukan inovasi agar perusahaan tetap prima.

Namun, di balik penurunan harga minyak itu juga ada peluang emas yang bisa diambil perusahaan milik Arifin Panigoro ini. Salah satu peluang itu adalah akuisisi aset perusahaan lain dengan harga pasar yang lebih rendah.

Untuk itu pihaknya hanya perlu meyakinkan pemegang saham agar akuisisi bisa dilakukan. "Kami tidak hanya memangkas biaya, tetapi juga menyiapkan akuisisi agar terdapat pertumbuhan yang besar ke depan," kata dia dalam CEO forum di ajang Indonesian Petroleum Associatioan (IPA) ke 42 di Jakarta, Rabu (2/5).

Advertisement

MedcoEnergi juga bisa bertahan dari rendahnya harga minyak karena ditopang juga unit bisnis lain yang dimilikinya. Bisnis itu antara lain pembangkit listrik dan juga pertambangan.

CEO Upstream Petronas Datuk M.Anuar Taib juga memiliki cerita mengenai bertahan di harga minyak yang rendah. Upaya itu yakni mengurangi aneka biaya agar efisien. Perusahaan asal Malaysia ini bahkan berhasil menghemat biaya sekitar US$. 3,5 miliar yang terdiri dari penghematan biaya operasi dan belanja modal. 

Kinerja keuangan Petronas selama harga minyak rendah juga dibantu adanya bisnis gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Apalagi Petronas mengklaim sebagai pemasok LNG terbesar ketiga di dunia.

Menurut Taib turunnya harga minyak bukan alasan untuk menyurutkan investasi terutama kegiatan eksplorasi. Makanya Petronas pun mengepakkan sayapnya di hampir 18 negara di dunia. Setidaknya perusahaannya menggelontorkan dana sekitar US$ 800 juta per tahunnya untuk kegiatan pengeboran sumur dan akuisisi blok migas.

Eksplorasi ini agar aset perusahaan tersebut bertambah dan bisa ikut menopang keuangan perusahaan secara jangka panjang. "Kami ami tempatkan prioritas capital expenditure di proyek kami, seperti belanja untuk eksplorasi," kata Taib.

Senior Vice President Upstream Business Development Pertamina Denie S. Tampubolon juga bercerita mengenai keberhasilan perusahaannya menghadapi krisis harga minyak rendah 2014 lalu. Perusahaan milik negara ini menghadapi rendahnya harga minyak dengan memangkas biaya operasional. "Dengan harga minyak sedemikan rupa kami lakukan efisiensi biaya,” kata dia.  

Akan tetapi, Pertamina tetap memperhatikan  aspek kesehatan,  keamanan, lingkungan dan meningkatkan sumber daya manusia dalam menjalankan bisnisnya. Dengan begitu, perusahaannya siap menghadapi kondisi apapun termasuk penurunan harga minyak.

(Baca: Pertamina Naikkan Investasi Sektor Hulu Jadi Rp 44 Triliun)

Namun ada tantangan yang harus dihadapi Pertamina dalam menjalankan bisnisnya. Salah satunya karena posisi Pertamina sebagai perusahaan negara sehingga memiliki banyak pemangku kepentingan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait