ENI Kirim Kargo LNG Pertama dari Proyek Jangkrik

Kargo pertama ini menjadi bukti pengembangan migas di Kalimantan Timur masih menarik.
Anggita Rezki Amelia
22 Juni 2017, 16:31
FUP Jangkrik
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Suasana Kapal Floating Production Unit (FPU) Jangkrik di Saipem Karimun Yard, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Selasa (21/3). Kapal FPU Jangkrik merupakan fasilitas migas berbentuk kapal dirancang untuk pengolahan gas dengan kapasitas hingga 450 jut

Eni mulai mengirimkan kargo gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) pertama dari Lapangan Jangkrik, Blok Muara Bakau ke pasar domestik. Pengiriman kargo sebesar 22.500 meter kubik dari kilang LNG Bontang, Kalimantan Timur ke terminal regasifikasi di Tanjung Benoa, Bali menggunakan kapal Triputra.

Pengiriman kargo perdana ini merupakan bagian dari kontrak jangka panjang yang telah ditandatangani dengan PT Pertamina (Persero). Menurut Wakil Kepala SKK Migas Sukandar sebagian besar gas ini untuk pemenuhan kebutuhan pabrik pupuk dan kebutuhan dalam negeri, seperti listrik.

(Baca: Jonan Andalkan Proyek Jangkrik untuk Capai Target Lifting Migas 2018)

Terkirimnya gas tersebut memberi kepastian pengembalian modal serta keuntungan finansial bagi kontraktor. Apalagi pengembangan Lapangan Jangkrik terletak di lepas pantai dan berada di laut dalam memiliki tantangan tersendiri baik dari aspek teknologi, operasional, maupun finansial.

Selain itu, kargo pertama ini menjadi bukti pengembangan migas di Kalimantan Timur masih menarik. Harapannya, kontraktor dapat melaksanakan operasional dengan baik sekaligus mencoba mencari cadangan-cadangan baru di wilayah kerja lain di Indonesia.

Managing Director Eni Indonesia, Fabrizio Trilli mengatakan lifting (produksi siap jual) pertama kargo LNG ini salah satu pencapaian kunci proyek pengembangan Jangkrik. “Saya sangat bangga melihat hubungan yang kuat dan produktif dengan pemerintah, Pertamina dan mitra kerja joint venture kami di Proyek Jangkrik,” kata dia berdasarkan keterangan resminya, Kamis (22/6).

(Baca: Proyek Jangkrik Berproduksi Lebih Cepat dari Jadwal)

Proyek ini terdiri dari lapangan gas Jangkrik dan Jangkrik North East yang berlokasi di wilayah kerja Muara Bakau, di laut dalam Selat Makassar. Produksi dari sepuluh sumur bawah laut yang ada di dua lapangan itu terhubung dengan unit produksi terapung (Floating Production Unit/FPU) Jangkrik.

Grafik: Produksi dan Konsumsi Gas Alam Indonesia Periode 2000-2016
Produksi dan Konsumsi Gas Alam Indonesia Periode 2000-2016

Setelah diproses di FPU, gas mengalir melalui pipa khusus sepanjang 79 km menuju Fasilitas Penerima Darat (Onshore Receiving Facility). Kemudian menuju ke Sistem Transportasi Gas Kalimantan Timur  sebelum akhirnya menuju ke kilang LNG Bontang. 

Presiden Direktur dan CEO Badak LNG, Salis mengatakan perusahaannya menerima pasokan gas dari lapangan Jangkrik sejak 29 Mei 2017. Hingga 22 Juni 2017, gas yang telah diolah menjadi LNG sebesar 2.400 juta standar kaki kubik. “Dengan adanya pasokan gas baru ini, Badak akan semakin berkelanjutan sebagai kilang pengolahan LNG,” kata dia.

(Baca: Jonan Ingin Produksi Proyek Jangkrik Digenjot Dua Kali Lipat)

Saat ini, produksinya sekitar 200 juta standar kubik kaki per hari, yang secara bertahap meningkat mencapai produksi sebesar 450 juta standar kubik kaki per hari atau setara dengan 83.000 barel setara minyak per hari.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait