Pertamina Siapkan Minimal Rp 10 T Buat Perusahaan Patungan di 2 Kilang

Arief menargetkan, pembentukan perusahaan patungan ini bisa terbentuk secepatnya dan tidak sampai tahun depan.
Anggita Rezki Amelia
Oleh Anggita Rezki Amelia
10 Oktober 2017, 17:27
kilang cilacap
Katadata

PT Pertamina (Persero) tengah memfinalisasi proses pembentukan perusahaan patungan (joint venture) di Kilang Tuban, Jawa Timur dan Cilacap, Jawa Tengah. Dana yang dibutuhkan untuk membentuk perusahaan patungan di dua kilang tersebut mencapai Rp 10 triliun lebih.

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan untuk tahap perencanaan (engineer) satu kilang saja membutuhkan dana lebih dari US$ 400 juta atau Rp 5 triliun. "Sesuai porsinya Pertamina," kata Arief kepada Katadata (10/10).

Adapun di Kilang Cilacap, Pertamina memiliki saham sebesar 55%, sisanya dipegang, Saudi Aramco. Sedangkan di Kilang Tuban, Pertamina mengempit 55% hak kepemilikan, sisanya dipunyai perusahaan asal Rusia, Rosneft.

Arief menargetkan, pembentukan perusahaan patungan ini bisa terbentuk secepatnya dan tidak sampai tahun depan. "Mudah-mudahan bisa di tahun ini," kata dia.

Selain menyiapkan pendanaan, Pertamina juga masih memfinalisasi amendemen kontrak dengan dua mitranya terkait penyerapan hasil produk kilang. Ini karena Pertamina tidak lagi menjadi pembeli tunggal pada produk Kilang Cilacap dan Tuban. Namun Saudi Aramco dan Rosneft.

Besaran produk kilang Cilacap dan Tuban yang akan diserap nantinya disesuaikan dengan kebutuhan Pertamina. Dengan begitu bisa memberikan kepastian terkait beban keuangan yang ditanggung perusahaan plat merah tersebut.

Sementara, investasi Kilang Tuban diperkirakan mencapai US$ 12 miliar hingga 15 miliar. Kilang ini memiliki kapasitas 300 ribu barel per hari (bph) dan berencana ditingkatkan menjadi 400 ribu bph. Awalnya kilang ini ditargetkan berproduksi 2021, tapi mundur ke 2023. 

Untuk di Kilang Cilacap, kapasitasnya sebesar 370 ribu bph. Investasinya sekitar US$ 5,5 miliar. Awalnya kilang ini ditargetkan bisa produksi lebih cepat pada 2021, namun mundur menjadi 2023.

Video Pilihan

Artikel Terkait