Pasar Respon Negatif Rapat The Fed, Rupiah Tembus Rp 12.000 per Dolar AS

The Fed tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat meyakinkan pasar bahwa kondisi ekonomi Amerika semakin membaik
Image title
Oleh
18 September 2014, 20:11
rupiah dolar arief.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ?  Rupiah terus melemah selama dua pekan terakhir, bahkan hari ini menyentuh level Rp 12.000 per dolar AS. Melemahnya rupiah ini dipengaruhi respon negatif terhadap hasil rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir tadi malam.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, hasil rapat Bank Sentral Amerika (The Fed) yang menyatakan negara Paman Sam itu tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, justru lebih meyakinkan pasar bahwa kondisi ekonomi Amerika semakin membaik.

"Dilihat dari proyeksi ekonominya, terlihat bahwa tingkat suku bunga di akhir tahun 2015 ada penyesuaian. Yang tadinya 1,125 persen menjadi 1,375 persen," ujarnya di gedung BI, Jakarta, Kamis (18/9).

Menurut Agus, tak hanya Indonesia, nilai tukar di negara berkembang juga melemah. Sehingga wajar jika rupiah juga ikut melemah dan menyentuh level Rp 12.000 per dolar.

Advertisement

Agus mengingatkan, sinyal perbaikan ekonomi Amerika membuat investor memiliki banyak alternatif untuk menempatkan dananya. Dana yang ada di Indonesia juga bisa berbalik ke Amerika. 

BI melihat investor sudah mulai menarik instrumen jangka panjang dan lebih memilih memindahkan dananya ke instrumen jangka pendek. Hal itu menggambarkan tekanan finansial terhadap negara berkembang sudah mulai terlihat. "Ini yang perlu diwaspadai pemerintah baru, terutama memasuki semester I/2015," ujar Agus.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, untuk mengantisipasi kenaikan bunga The Fed tahun depan, hal yang harus  dilakukan adalah membenahi kondisi fundamental ekonomi Indonesia. 

"Karena bicara moneter itu instrumenya terbatas, problem utamanya kan salah satunya transaksi impor BBM (bahan bakar minyak) dan subsidi harus dikurangi," tuturnya. 

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait