Belajar dari PLN Batam, Hapus Subsidi Listrik

Selama 14 tahun PLN Batam tidak mendapatkan subsidi listrik karena sudah tidak lagi menggunakan BBM
Image title
Oleh
22 Agustus 2014, 15:54
PLN KATADATA | Arief Kamaludin
PLN KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Anggaran subsidi listrik selalu lebih besar dari subsidi listrik selalu lebih tinggi dari subsidi non energi, seperti subsidi pangan, subsidi pupuk, subsidi PSO dan subsidi bunga kredit. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015, subsidi listrik tercatat mencapai Rp 72,422 triliun. meski lebih rendah dari tahun ini sebesar Rp 103,8 triliun, tapi tetap lebih tinggi dari subsidi non energi yang hanya Rp 70 triliun.

Padahal, belajar dari Batam, subsidi listrik ini tidak perlu ada. Selama 14 ini PT Pelayanan Listrik Nasional Batam sudah tidak pernah lagi mendapat subsidi listrik dari pemerintah. PLN Batam mampu menekan biaya produksi listrik dengan tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sehingga tidak perlu mendapat subsidi.

Direktur Utama PLN Batam Dadan Koerniadipoera mengatakan sejak tahun 2000, PLN Batam berupaya keras untuk mengurangi penggunaan BBM sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Karena menurutnya penggunaan BBM sangatlah mahal dan merugikan PLN Batam. Upaya ini pun berhasil, pada 2012 PLN Batam sudah tidak lagi menggunakan BBM untuk bahan bakar pembangkitnya.

Dadan menceritakan pernah suatu kali pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berkapasitas 40 megawatt (MW) yang dimiliki PLN Batam rusak. Karena terjadi pemadaman, PLN Batam pun menggantinya dengan solar selama tiga bulan. Dampaknya keuntungan PLN Batam harus tergerus Rp 80 miliar, padahal solar tersebut hanya digunakan selama tiga jam sehari.  

"Waktu itu untung kami cuma  Rp 60 milyar, jadi defisit. Sejak saat itu, kami berhenti bakar (menggunakan) solar,? jelas Dadan dalam keterangannya, Jumat (22/8).

Setelah mengalihkan penggunaan BBM ke gas, PLN Batam berhasil mencatat peningkatan keuntungan hingga Rp 50 milyar per tahun. Saat ini, Dari 340 MW kapasitas pembangkit listrik PLN Batam, sekitar 70 persen sudah menggunakan gas dan 30 persen lainnya menggunakan batu bara. 

Hingga saat ini pembangkit gas yang dimiliki PLN Batam menggunakan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG). Ke depan, PLN Batam akan membangun pembangkit dengan menggunakan gas alam cair (liquified natural gas/LNG) di Tanjung Ucang, Batam. Karena PLN akan mendapat jatah gas di Tanjung Ucang, dan terminal LNG-nya pun akan dibangun di sebelah pembangkit tersebut.

Menurut Dadan, LNG akan sangat mudah dikembangkan karena LNG kita bisa kirimkan dalam jarak yang jauh sedangkan CNG dalam jarak dekat dan kapasitas volumenya pun kecil. ?Nah ini yang kita tawarkan kepada PLN holding menggantikan solar-solar itu dengan LNG, dengan mesinya sekaligus,? ujar Dadan. 

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait