Utang Melonjak, Bagaimana Solusi Prabowo dan Jokowi?

Dengan beban utang terus bertambah pemerintah baru 20142019 akan menanggung cicilan pokok dan bunga utang sekitar Rp 150 triliun per tahun
Image title
Oleh
23 Juni 2014, 12:00

KATADATA - Kendati rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun, namun peningkatan utang secara nominal kerap dipersoalkan karena akan menjadi beban pemerintah mendatang. Hingga Juni 2014, jumlah utang pemerintah Indonesia mencapai Rp 2.461 triliun.

Dengan beban utang yang terus bertambah, pemerintah baru 2014-2019 dipastikan akan menanggung beban cicilan pokok dan bunga utang sedikitnya Rp 150 triliun setiap tahunnya. Beban cicilan itu sudah mencakup lebih dari 15 persen dari total penerimaan negara.

Untuk mengelola beban utang tersebut, kedua pasangan calon presiden RI 2014-2019, Prabowo-Hatta Rajasa dan Jokowi-Jusuf Kalla melihat sudah memiliki visi dan misi atas penyelesaian utang tersebut. Prabowo menjanjikan pengurangan utang luar negeri, sedangkan kubu Jokowi berniat terus mengurangi rasio utang pemerintah terhadap PDB.

Namun, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik bahwa pengurangan jumlah utang berisiko terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ini sedikit kontradiksi dengan target pertumbuhan yang ingin dicapai.

Menurut dia, Indonesia ke depan masih akan membutuhkan utang-utang yang sifatnya strategis seperti dalam pemenuhan belanja modal. "Kalau hanya mengandalkan utang dalam negeri justru akan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah."

Reporter: Agus Dwi Darmawan
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.