Pengusaha Tekstil Minta Pemerintah Percepat Perjanjian Dagang

Penulis: Michael Reily

Editor: Safrezi Fitra

28/11/2017, 10.08 WIB

Dengan perjanjian dagang bea masuk ke negara tujuan bisa berkurang. “Kalau bea masuk berkurang, kenaikan ekspor bisa 3 kali lipat,” kata Ernovian

tekstil
Katadata | Arief Kamaludin

Pengusaha tekstil meminta pemerintah untuk mempercepat proses negosiasi perjanjian dagang dengan sejumlah negara. Harapannya perjanjian dagang ini bisa membuat bea masuk yang diterapkan di negara tujuan bisa berkurang, sehingga ekspor tekstil Indonesia ke negara tersebut bisa meningkat. 

“Kalau bea masuk berkurang, kenaikan ekspor bisa 3 kali lipat,” kata Sektetaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian Ismy kepada Katadata di Jakarta, Senin (27/11). (Baca: Asia Pasifik Bakal Jadi Kawasan Perdagangan Bebas pada 2020)

Ia menjelaskan, selama ini rata-rata bea masuk umum yang diterapkan di beberapa negara tujuan ekspor mencapai 12 persen. Tarif yang cukup besar ini menghambat ekspor produk Indonesia, terutama tekstil, ke negara-negara tersebut. Adanya perjanjian dagang antara Indonesia dengan negara tujuan ekspor bakal memberikan preferensi untuk menurunkan, bahkan membebaskan bea masuk di masing-masing negara.

 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang diolah API, total ekspor tekstil Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$ 11,83 miliar. Negara tujuan ekspor tekstil dalam negeri paling banyak adalah Amerika Serikat (AS) sebesar 32,34 persen, Uni Eropa 14,97 persen, dan Jepang 10,08 persen.

Ernovian mengungkapkan produk tekstil Indonesia sudah diekspor ke lebih dari 200 negara. Meski begitu, perjanjian dagang yang ada saat ini hanya dilakukan dengan Jepang dari tiga pasar besar. “Masalahnya kita (Indonesia) tidak punya perjanjian dagang dengan pasar besar, Amerika dan Uni Eropa belum ada,” jelasnya.

(Baca: AS Khawatir Pembatasan Impor Indonesia Hambat Perdagangan Dua Negara)

API meminta agar pemerintah juga membuat perjanjian dagang, setidaknya dengan negara yang selama ini menjadi pasar terbesar produk ekspor Indonesia. Ernovian mengaku permintaan ini telah disampaikan melalui surat resmi kepada pemerintah.

Menurutnya, Indonesia masih kalah cepat jika dibandingkan dengan Vietnam dalam kesepakatan perjanjian dagang. Padahal kualitas tekstil Indonesia sangat kompetitif dengan lebih dari 240 produk Indonesia yang sudah mendunia. Oleh karena itu, API juga meminta ada percepatan dalam negosiasi perjanjian dagang untuk meningkatkan ekspor tahun depan. 

API memprediksi pertumbuhan industri tekstil tahun depan masih akan mengalami peningkatan. Namun, kenaikannya tidak akan signifikan, apabila belum ada perjanjian dagang yang rampung tahun depan. (Baca: Perundingan Dagang Final dengan Australia Diundur Bulan Depan)

Selain itu, Ernovian mengarahkan supaya industri harus menyambut globalisasi. Saat ini kemampuan produksi industri tekstil di Tanah Air baru mencapai 80 persen dari total kapasitas terpasang. Untuk meningkatkan utilisasi ini, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang baik dan mesin yang modern. 

“Kita (Indonesia) harus meningkatkan produksi dengan man power  dan engine power,” ujarnya.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan