Gubernur BI Ramal B20 Mampu Tekan Defisit Transaksi Berjalan Jadi 2,5%

Penulis: Rizky Alika

Editor: Dini Hariyanti

Jum'at 31/8/2018, 18.29 WIB

BI yakin program B20 ampuh untuk mengurangi defisit transaksi berjalan ke level 2,5% terhadap PDB.

Perry Warjiyo
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Calon Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersiap menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (28/3). Perry ditunjuk sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Agus DW Martowardojo yang berakhir masa jabatannya pada Mei 2018.

Kebijakan pencampuran biodiesel sebanyak 20% atau B20 diyakini Bank Indonesia (BI) mampu menekan defisit transaksi berjalan menjadi 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto alias PDB.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, B20 dapat mengurangi impor minyak mentah hingga US$ 2,2 miliar. “Kami perhitungkan impor turun, juga penggunaan TKDN (tingkat komponen dalam negeri), lalu penaikan dari pariwisata,” tuturnya mengutip dokumen Departemen Komunikasi BI, Jumat (31/8).

(Baca juga: Langkah Realistis Pemerintah Hadapi Defisit)

Selain penurunan impor, bank sentral juga memproyeksikan bahwa kinerja ekspor bakal lebih baik pada 2019 karena B20 mulai masif diserap pasar. Asumsi BI ialah impor bisa susut hingga US$ 6,6 miliar sedangkan ekspor terdongkrak sekitar US$ 4 miliar – US$ 5 miliar. Alhasil, devisa naik US$ 9 miliar – US$ 10 miliar. 

Sejumlah strategi bank sentral untuk memacu kinerja sektor pariwisata juga diyakini bakal berkontribusi positif terhadap devisa negara. "Tidak hanya perluasan apron Bali, tetapi ada New Yogyakarta International Airport. Itu menambah devisa dalam jangka pendek," ujar Perry. 

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara memprakirakan bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit / CAD) pada tahun ini sebesar US$ 25 miliar. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi tahun lalu US$ 17,3 miliar setara 1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Per triwulan kedua tahun ini, CAD ada di posisi US$ 8 miliar sama dengan 3% terhadap PDB. Angka ini menunjukkan defisit terbesar sejak 2014 yang kala itu menyentuh 3,1% PDB. Selepas itu defisit transaksi berjalan melandai dan baru melejit lagi sejak triwulan keempat tahun lalu sebesar 2,3%.  

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha